Tak Ada Khatib Salat Jumat di Kampung Payum

Pengalaman menjadi dai di tepian negeri membuat Diki melihat banyak hal terkait kondisi muslim di Merauke. Mulai dari kebiasaan penunjukan khatib salat Jumat yang tidak biasa hingga akses jalan yang buruk.

muslim di merauke
Santri di Pondok Pesantren Yayasan Santri Perbatasan Timur saat sedang membaca Al-Quran. (ACTNews)

ACTNews, MERAUKE – Merauke menjadi wilayah paling timur Indonesia. Penduduk Merauke beragam, dan hidup berdampingan. Namun, populasi muslim menjadi minoritas dan kebanyakan  muslim di Merauke adalah mualaf. 

Diki Saputra, salah satu Dai Tepian Negeri ACT yang ditugaskan di Yayasan Santri Perbatasan Timur, Desa Rimba Jaya, Kecamatan Merauke, Kabupaten Merauke menceritakan, sesampainya di Merauke pada Oktober 2020, dia melihat hal yang aneh saat waktu salat Jumat tiba. Di mana hingga pukul 13.00 WIT belum ada jemaah yang datang ke masjid. 

Hal tersebut terjadi di masjid Kampung Payum, Kecamatan Merauke. Melihat waktu salat Jumat yang sudah semakin siang, akhirnya Diki pergi ke masjid dan menjadi jemaah yang pertama datang. Tak berselang lama, jemaah yang lain pada berdatangan.

“Saya kaget ternyata di masjid itu aturannya, yang datang pertama kali ke masjid maka dia yang akan menjadi khatib Jumat. Saya tidak tau sebabnya. Apa tidak ada yang mau, atau tidak ada yang bisa? Jadi jangan kaget kalau salat Jumat di sana jam 13.00 belum ada jemaah yang datang,” kata Diki, Rabu (6/10/2021). 

Selain masalah khatib, Diki melanjutkan, akses menuju salah satu lokasi tempatnya mengabdi di Desa Jagebob 12, Kecamatan Jagebob, Kabupaten Merauke juga buruk dan ekstrem. Memerlukan waktu 12 jam dari pusat kabupaten Merauke. 

Diki menjelaskan, dari pusat Kabupaten Merauke ke Desa Jagebob 9, enam jam perjalanan. Selanjutnya dari  Jagebob 9 ke Jagebob 12 enam jam. “Kita berangkat pagi sampai Jagebob 12 magrib,” ujarnya, Senin (11/10/2021). 

Jalan masih berkontur tanah. Kendaraan kecil dengan ban di aspal tidak akan bisa berjalan melewatinya. Harus menggunakan kendaraan besar dengan posisi ban yang sudah dimodifikasi. 

“Jadi harus pakai mobil yang bannya gede dan tinggi. Kalau pakai mobil kecil, enggak bisa jalan, kalau dipaksa, mesin mobil bisa kebakar,” jelas pria kelahiran Aceh ini.

Meski terisolir, muslim di Jagebob 12 hidup nyaman dari hasil pertanian yang dikelola. Namun, fasilitas pendidikan di Jagebob 12 masih belum lengkap. Hanya tersedia sekolah jenjang SD dan SMP, sedangkan untuk sekolah jenjang menengah atas, anak-anak Jagebob 12 harus ke pusat kota. 

Dai Tepian Negeri merupakan program pengiriman dai ke wilayah-wilayah tepian negeri Indonesia. Para dai bertugas dakwah, membimbing muslim minoritas atau para mualaf yang berada di daerah 3T.[]