Tak Banyak yang Tahu, Begini Hidup Sebagai Nelayan di Pesisir Ibu Kota

“Sekarang (cuaca) sudah enggak bisa diprediksi lagi. Mungkin, kalau lima tahun lalu kita lihat cuaca tenang, pasti melaut. Sekarang enggak bisa (hanya menerka cuaca). Kondisi mulai berubah, sekarang percaya aja sama BMKG,” cerita Wahyu, nelayan di Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, kepada ACTNews.

Nelayan Tanjung Priok
Sejumlah kapal nelayan bersandar di dermaga, di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara (ACTNews/Abdulrahman Rabbani)

ACTNews, JAKARTA UTARA Sore perlahan berubah menjadi malam. Di pesisir ibu kota, udara dingin angin selatan kian terasa menusuk kulit. Mulai malam arah angin membuat ombak semakin ke tengah laut. Para nelayan menyiapkan sejumlah peralatan untuk melaut.

Seperti yang dilakukan Wahyu malam itu. Ia mulai merapikan jaring. Perbekalan lain seperti air minum, bahan bakar, umpan, untuk malam itu dimasukkan ke dalam kapalnya yang kurang lebih hanya sepanjang lima meter. Tiga kali mesin dipantik, tetapi tak kunjung menyala. Sesekali lampu senter menyorot isi tabung bahan bakar, yang ternyata terisi penuh.

Dengan sekuat tenaga, percobaan yang keempat kali, mesin mulai menyala dan meraung. Namun hujan tiba-tiba turun dengan deras. Wahyu berlari ke gubuk kecil di sisi pantai.

“Sekarang (cuaca) sudah enggak bisa diprediksi lagi. Mungkin, kalau lima tahun lalu kita lihat cuaca tenang, pasti melaut. Sekarang enggak bisa (hanya menerka cuaca). Kondisi mulai berubah, sekarang percaya aja sama BMKG,” cerita Wahyu kepada ACTNews Rabu (8/9/2021) malam. Ia urungkan melaut karena hujan.

Wahyu pun melanjutkan malam dengan bercerita, menurut dia, nelayan di Jakarta kondisinya sangat memprihatinkan. Semuanya serba tidak menentu. Ikan di laut kini mulai jarang. Banyak hal penyebabnya, dari limbah pabrik sampai sampah plastik rumahan membuat ikan semakin menjauh dari radius nelayan menjaring ikan.

“Ikan enggak mau lagi mendekat. (Ikan) Tau kalau air lautnya kotor. Cokelat dan banyak sampah. Apalagi bau limbah pabrik. Lihat saja di sekeliling pesisir pantai sampahnya enggak karuan,” kata Wahyu.