Tak Berhenti Mengajar dan Berdakwah di Masa Pandemi

Kegiatan dakwah selama pandemi ini tidaklah berakhir. Kebaikan terus mengalir lewat dai yang meluangkan waktunya untuk murid dan masyarakat.

Arifin, ustaz di salah satu pesantren di Bekasi, sedang mengajar terbatas ke murid di pesantren tempatnya mengabdi. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI Namanya Abas Aripin, sosok guru mengaji yang penuh inspirasi. Sejak umur 18 tahun, ia sudah mulai mengajar dan mengabdi pada bidang pendidikan. Di usia yang masih muda itu, ia telah mulai menyampaikan berbagai pengetahuan Islam di jalan dakwah. Tutur yang lemah lembut serta santun menjadi cara yang Abas pilih.

Saat ini, Abas juga menjadi pengajar di SMP Islam Terpadu Pangeran Jayakarta, Bekasi. Tiap bulannya, gaji sebesar Rp900 ribu selalu ia kantongi dari satu tempat mengajar ini. Namun, itu adalah gaji sebelum pandemi. Saat ini, upah mengajar Abas per bulan turun drastis, menjadi Rp350 ribu. Berkurangnya waktu mengajar akibat keterbatasan pertemuan langsung selama pandemi menjadi alasan turunnya gaji ini.

“Walau gajinya berkurang drastis, saya tetap mensyukuri rezeki. Saya juga senang mengajar karena anak-anak memberikan semangat tersendiri,” ungkap Abas, Selasa (10/11).

Di tengah syukur itu, Abas masih harus menghidupi keluarga dengan 3 orang anak yang masih duduk di bangku sekolah. Apalagi di tengah pandemi ini kebutuhan keluarga serta pendidikan meningkat karena pembatasan aktivitas yang harus mengandalkan kemajuan teknologi. Walau begitu, Abas tak pernah berhenti untuk tetap mengajar, ia selalu meluangkan waktu sekaligus meneruskan dakwahnya.

“Sekarang pemasukan hanya dari ngajar di TPQ sama sumbangan seikhlasnya dari wali murid,” kata Abas.

Seperti Abas, di masa pandemi ini Mohammad Arifin (24) juga tak menghentikan kegiatan dakwahnya. Ustaz yang mengabdi di Pesantren Silmi Kaffah, Bekasi tersebut selalu mengedepankan kelembutan saat berdakwah serta membuat para pendengarnya merasa asik. Ia tak merasa menjadi beban dengan adanya pembatasan selama pandemi dalam urusan mengajar. Baginya, hadirnya pandemi menjadi tantangan tersendiri di dunia dakwah dan pendidikan.

Abas serta Arifin merupakan beberapa pengajar sekaligus dai yang mendapatkan biaya hidup dari Global Zakat-ACT melalui program Sahabat Dai Indonesia. Bantuan biaya hidup tersebut merupakan bentuk apresiasi dari Global Zakat-ACT atas pengabdian mereka, terlebih di masa pandemi ini. Abas dan Arifin tak menjadikan pandemi sebagai alasan tidak lagi mengajar, mereka tetap meluangkan waktunya di dunia pendidikan walau mendapat upah kisaran ratusan ribu rupiah saja.

“Apresiasi ini merupakan buah dari zakat masyarakat yang disalurkan melalui Global Zakat. Dana zakat yang terhimpun menjadi kebaikan yang sangat berkesan bagi para dai yang menerimanya,” jelas Riski Andriani dari Tim Global Zakat-ACT, Jumat (13/11).[]