Tak Hanya Longsor, Nganjuk Juga Diterjang Banjir

Banjir melanda empat titik, yakni Kecamatan Nganjuk, Kecamatan Berbek, Kecamatan Pace, dan Kecamatan Bagor. Bagor menjadi wilayah yang terdampak banjir paling parah. Ketinggian banjir bervariasi, mulai dari 15 cm hingga 80 cm.

relawan MRI-ACT
Relawan MRI-ACT membantu membersihkan sisa lumpur di RSUD Nganjuk, Kamis (18/2/2021). (ACTNews)

ACTNews, NGANJUK - Selain dilanda longsor, Nganjuk juga diterjang banjir di sejumlah wilayah sejak Ahad (14/2/2021) malam hingga Senin (15/2/2021) siang. Banjir di Nganjuk dipicu intensitas hujan yang sangat tinggi. Air hujan membawa material pepohonan, dan sampah, sehingga mengakibatkan tersumbatnya pintu air yang membuat debit air naik sangat cepat dan meluap masuk ke permukiman masyarakat. 

Banjir melanda empat titik, yakni Kecamatan Nganjuk, Kecamatan Berbek, Kecamatan Pace, dan Kecamatan Bagor. Bagor menjadi wilayah yang terdampak banjir paling parah. Ketinggian banjir bervariasi, mulai dari 15 cm hingga 80 cm.

ACT menerjunkan regu penyelamat dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) di lokasi terdampak banjir. Bekerja sama dengan BPBD dan relawan lainnya, tim melakukan asesmen, pendataan lokasi terdampak, dan membantu pembersihan layanan publik yang terdampak banjir. Salah satunya RSUD Nganjuk.

Selasa (16/2/2021) hingga Rabu (17/2/2021), relawan MRI yang diterjunkan ke wilayah terdampak banjir membersihkan sisa lumpur banjir di RDUD Nganjuk. Kondisi RSUD Nganjuk masih tergenang air yang membawa material sampah dan batang-batang pohon.

Kamis (18/2/2021), kondisi banjur terpantau surut. Akan tetapi jika intensitas hujan kembali tinggi, banjir segera naik kembali. Doni, salah satu relawan MRI Surabaya yang diterjunkan ke lokasi banjir menyampaikan, kondisi banjir di Nganjuk tidak hanya air, tapi juga membawa materi lain, seperti sampah dan pepohonan. 

“Kondisi banjir sudah mulai surut. Hanya saja intensitas hujan masih tinggi, yang menyebabkan ketinggian air masih sering naik. Beberapa warga pun terpantau masih mengungsi. Salah satu lokasi yang dijadikan tempat mengungsi ketika air meninggi yakni Sanggar Pramuka,” kata Doni.[]