Tak Lupa Menyapa Pengungsi Gempa di Sumbawa

Tak Lupa Menyapa Pengungsi Gempa di Sumbawa

ACTNews, SUMBAWA BARAT – Doa dan ikhtiar untuk memulihkan Lombok dimaksimalkan setiap hari. Rasanya semua masyarakat Indonesia pun paham, betapa dahsyat efek kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa Lombok. Namun tahukah Anda bahwa sesungguhnya duka yang hampir sama juga dirasakan oleh sebagian warga Sumbawa? Gempa-gempa besar yang datang silih-berganti mengguncang Lombok, efeknya juga merusak rumah-rumah di wilayah Sumbawa.

Terakhir, gempa besar yang terasa begitu keras di Sumbawa terjadi pada Ahad (19/8) silam. Malam itu, gempa dengan magnitudo 7,0 SR sampai membuat roboh rumah-rumah warga. Bahkan, gempa kala itu sempat membuat kebakaran besar terjadi di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Setelah itu, gempa-gempa susulan kerap terjadi, membawa rasa trauma yang sama seperti apa yang dirasakan ratusan ribu jiwa pengungsi gempa Lombok.

Lalu, bagaimana kabar pengungsi gempa Sumbawa hari ini?

Tak lupa menyapa pengungsi gempa di Sumbawa, Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih mendirikan satu posko utama merespons pengungsi di Sumbawa. Posko ACT berada di Jalan Raya Lintas Tano, Dusun Hijrah, Desa Usar Mapin, Kecamatan Alas Barat, Kab. Sumbawa. Sejumlah paket logistik untuk Sumbawa setiap pekannya dipasok dari Indonesia Humanitarian Center (IHC) – ACT atau gudang logistik ACT yang berada di Kota Mataram.

Dari Posko ACT di Sumbawa inilah, setiap harinya aksi distribusi logistik dijalankan. Bergerak bersamaan, selagi memulihkan Lombok juga memulihkan Sumbawa.

Laporan terkini, akhir pekan kemarin Sabtu (15/9), distribusi logistik untuk korban gempa Sumbawa dilakukan di tiga lokasi sekaligus. Gusti Arsyad, Koordinator Posko ACT di Sumbawa menuturkan, keempat lokasi yang didatangi meliputi Desa Tepas, Desa Lamontet, Desa Bangkat Monteh, dan Desa Sapugara Bree, keempatnya berada di Kecamatan Brang Rea.

“Bantuan logistik yang kami bawa ke empat desa terdampak gempa Sumbawa itu meliputi beras dan terpal. Pasokan logistik belum terjamin sepenuhnya. Warga korban gempa di Sumbawa masih banyak yang hanya mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk menyambung hidupnya. Ekonomi belum kembali pulih, rumah mereka pun banyak yang ambruk,” ujar Gusti Arsyad.

Bantuan Terpal Desa Sapugara Bree

Satu perjalanan berkesan dirasakan oleh relawan ACT yang bertugas di Sumbawa, kesan itu ada di momen menuju Desa Sapugara Bree, Kecamatan Brang Rea Sumbawa Barat. Burhanuddin, salah satu relawan ACT yang bertugas di Sumbawa mengatakan, lokasi Sapugara Bree cukup terpencil.

“Sekitar 44 km dengan estimasi waktu sampai satu jam. Perjalanan kami tempuh malam hari. Tapi malam bukan hambatan untuk berbagi kasih kepada yang membutuhkan, terutama para korban gempa lansia yang masih lemah dan tinggal di tenda-tenda terpal,” ujar Burhanuddin.

Ali namanya, seorang lansia di Dusun Bree, Desa Sapugara Bree, Kecamatan Brang Rea yang ditemui oleh relawan ACT. Ali setiap malamnya masih tinggal di tenda terpal yang bocor. Rumah Ali roboh setelah gempa besar 7,0 SR ikut mengguncang Sumbawa pertengahan Agustus lalu.

“Terima kasih nak terpalnya, Semoga Allah melindungi relawan ACT di manapun berada. Semoga Allah membalas jasamu anak-anak relawan,” ujar Ali. []

Tag

Belum ada tag sama sekali