Tak Perlu Panik Hadapi Penyebaran Virus Corona

Virus corona menjadi ancaman karena kemampuan penularannya yang sangat cepat. Namun, rendahnya tingkat kematian dan mudahnya pencegahan corona menjadi alasan mengapa masyarakat tak perlu panik menghadapi epidemi ini.

Illustrasi dari bentuk virus corona. Virus corona memiliki duri-duri di permukaannya yang mengandung lapisan glikoprotein. (CDC/Alissa Eckert, MS, Dan Higgins, MAM)

ACTNews, JAKARTA – Sebagaimana penularannya, virus corona atau yang sering disebut Covid-19, juga masif menjadi bahan perbincangan. Semenjak Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya kasus infeksi corona di Indonesia, kepanikan terjadi di masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan melambungnya harga masker dan cairan antiseptik. Kompas bahkan mencatat, pada Selasa (3/3) kemarin harga beberapa masker di toko daring bahkan naik 10 kali lipat.

Kepanikan itu sebenarnya tidak perlu, menurut Drh. Moh Indro Cahyono, seorang Peneliti Virus dan Praktisi Penanganan Wabah Penyakit. Menurutnya, sekalipun memiliki kemampuan untuk menyebar secara cepat, virus corona tidak seganas yang digambarkan media pada umumnya. Dari 80.000 orang terjangkit, sebanyak 2.400 meninggal dan jumlah tersebut hanya 2% hingga 3% dari penderita.

“Silahkan nanti dilihat di data statistik mengenai seberapa banyak orang yang terkena coronavirus dan berapa banyak orang yang meninggal. Yang meninggal itu selalu berada di kisaran 2%-3%. Berarti sisanya, sebanyak 97% itu selamat. Dengan deskripsi lebih detail yang sakit yang sakit 53%, sementara sudah ada yang mulai sembuh itu sebanyak 44%,” ujar dokter Indro pada videonya yang diunggah di kanal Youtube resminya pada Rabu (4/3) ini.

Virus corona juga mudah hancur oleh pelarut lemak, deterjen, atau disinfektan. Bentuk virus corona seperti memiliki duri-duri yang terbuat dari lapisan glikoprotein. Sementara lapisan ini akan sangat mudah hancur oleh pelarut lemak, deterjen, ataupun disinfektan.


“Sehingga, bila kita sering cuci tangan, sering mengepel lantai dengan disinfektan atau dengan cairan untuk pel, maka virusnya akan hancur,” jelas dokter Indro.

Hal yang mesti diwaspadai, virus corona menular ke manusia lewat sentuhan dengan material-material yang terjangkit virus. Virus ini juga mudah berpindah saat seseorang berada di keramaian. Penularan tersebut bisa melalui bersin, di saat seseorang sedang berkontak langsung dengan penderita.

Jika terjangkit, dokter Indro mengimbau penderita untuk tetap tenang dan tidak panik. Di hari pertama sampai ke-7 infeksi, penderita memang akan merasakan gejala demam dan flu. Tetapi jika kondisi tubuh cukup bagus, di hari ke-7 juga tubuh akan mengeluarkan antibodinya.

Fase penanganan oleh antibodi ini akan sampai pada puncaknya, yakni pada hari ke-14. Itu sebabnya jumlah orang yang sembuh dari virus cukup tinggi sekalipun tanpa vaksin. Hingga kini sebanyak 44% penderita corona di seluruh dunia dinyatakan sembuh.


Indro pun menganjurkan tiga prinsip penanganan wabah corona yang dapat dilakukan sendiri. Pertama, mengurangi paparan virus melalui hidup sehat dan bersih serta menghindari tempat di mana banyak orang yang sedang sakit. Kemudian menaikkan antibodi dan energi dengan minum vitamin C dan E plus madu. Serta terakhir apabila merasa sakit, beri waktu tubuh untuk beristirahat di rumah.

“Sehingga, jika katakanlah (menderita) demam 4-5 hari itu wajar. Tidak usah panik, biasa saja. Kita hanya perlu memberikan vitamin C, vitamin E, makan yang cukup, istirahat yang cukup, nanti di hari ke-7, antibodi kita keluar. Ini berlaku juga untuk yang sedang sakit. Sebenarnya kita semua akan bisa menangani wabah dari virus corona ini. Asal kita bisa tahu basic-nya seperti apa, ilmunya seperti apa, dan yang paling terakhir jangan panik,” ujar dokter Indro.

Saran serupa juga diutarakan oleh dr. Rizal Alimin selaku Koordinator Tim Medis ACT. Perilaku hidup bersih sehat menjadi cara utama menjaga diri dari serangan Covid-19 atau virus corona. Sikap tersebut dapat dimulai dari cara cuci tangan yang benar.


Mahasiswa Prasetya Mulya jalani pemeriksaan suhu tubuh oleh tim medis Aksi Cepat Tanggap (2/3). Usai musim libur, Universitas Prasetya Mulya mengeluarkan kebijakan pemeriksaan suhu tubuh mahasiswa, terutama bagi mahasiswa yang baru saja keluar negeri. (ACTNews)

Selain itu, ia juga mengatakan, daya tahan tubuh yang kuat tidak akan membuat seseorang mudah terserang Covid-19. “Untuk kebal terhadap penyakit, kita harus meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara makan makanan bergizi, cuci tangan, dan menghindari berpergian atau kontak dengan banyak orang,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, awal Februari lalu ACT juga telah melangsungkan sejumlah aksi pencegahan penyebaran virus Corona. Misalnya saja pembagian masker di Bandara Soekarno Hatta, bekerja sama dengan mitra internasional dalam penanggulangan Covid-19, dan pengiriman belasan ribu masker untuk WNI di negara-negara waspada dan siaga.

Selain itu, Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) - ACT juga menggelar Ngobrol Asik Siaga Bencana (Ngobrass) terkait Covid-19. Dalam Ngobrass kala itu, masyarakat diimbau untuk tidak sembarang mencerna informasi yang tidak valid. []