Tambal Sulam Modal Petani Ubi

Harga ubi yang terjun ke angka Rp 200 per kilogram membuat banyak petani ubi di Jawa Timur merugi. Pardi (71) salah satunya. Jika sedang merugi, ia menjual ternak yang ia miliki untuk modal kembali bercocok tanam.

Petani di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, memanen ubi, Kamis (4/2/2021). (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, MOJOKERTO – Pardi (71) pasrah panen ubi seluas 1.550 meter persegi atau setara 10 kuintal miliknya dihargai berapa pun. Ia terikat perjanjian dengan salah satu saudagar yang memberikannya modal.

Sama seperti kebanyakan petani ubi di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, petani ubi seperti Pardi tengah merugi. Hasil panen ubi di Kecamatan Trawas kolaps harga hingga Rp200 per kilogram. Faktor terbesarnya karena pandemi Covid-19. 

Penyerapan komoditas ubi tidak bisa maksimal karena sektor pariwisata di sekitar wilayah ini terhenti. Ubi yang biasa menjadi buah tangan atau diolah menjadi keripik tidak lagi bisa dimaksimalkan.

Ubi yang dipanen Pardi, hingga awal Februari ini pun belum diangkut dari ladang. Secara waktu, kondisi ini sudah cukup terlambat. "Ikut saja nanti dihargai berapa pun. Ndak tahu juga," akunya.

Untuk menanam ubi kali ini, Pardi mengaku menggunakan modal Rp1 juta. Perkiraan, ubinya hanya laku Rp200 ribu satu ladang. Bahkan, sembari menunggu hasil panennya terjual dalam waktu lima bulan, Pardi sempat menjual ternak untuk kebutuhan hidup.

Menurut Pardi, kebiasaan tambal-sulam itu sering ia lakukan. Belum lagi, usai panen ubi, ia akan mengganti sawahnya dengan padi. "Semoga tanam padi besok hasilnya baik," harap Pardi.


Langkah ganda penyelamatan

Melalui penyelamatan petani ubi dengan membeli hasil panen mereka saat ini, Aksi Cepat Tanggap dan masyarakat juga ikut menyelamatkan modal tanam para petani setelah panen ubi habis. Hal ini disampaikan oleh Mohammad Jakfar dari Tim Program ACT.

"Bersama Sahabat Dermawan, kami insyaa Allah akan membeli 1.000 ton ubi petani dengan harga terbaik. Ribuan ton ubi ini akan kami distribusikan ke pesantren-pesantren dan masyarakat prasejahtera di Jawa Timur untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan mereka," jelas Jakfar. []