Tambal Sulam Penghasilan hingga Berutang, Cara Dewi Hidupi Keluarga

Sejak pandemi, Dewi, guru honorer asal Bekasi, harus merasakan kondisi ekonomi yang semakin sulit. Ia pun terpaksa berutang untuk konsumsi keluarga hingga hanya bisa memakan hasil kebun yang ada di belakang rumahnya.

Tambal Sulam Penghasilan hingga Berutang, Cara Dewi Hidupi Keluarga' photo
Dewi (kiri) saat ditemui oleh tim ACT di rumahnya yang ada di Setu, Bekasi. Ia merupakan guru honorer yang merasakan dampak ekonomi dari pandemi. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI Kesejahteraan guru honorer seolah menjadi masalah laten yang meembutuhkan perhatian lebih untuk segera dituntaskan. Sering kali, gaji atau tunjangan guru honorer tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Mencari pekerjaan lain serta berutang menjadi cara mereka untuk menutup berbagai keperluan keluarga.

Kondisi tersebut dialami Dewi Sumirah (42). Perempuan asal Setu, Kabupaten Bekasi ini telah mengabdikan diri menjadi guru honorer selama 10 tahun. Ia mengajar di sekolah tingkat MA, SMK, dan MTS di Yayasan Putra Bangsa (Yapsa) yang menaungi Sekolah Islam Darul Hikmah, Kampung Sadang, Desa Cikarageman, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

Menggunakan motor jenis bebek peninggalan keluarga, Dewi menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Burangkeng, menuju sekolah. Sejak mengajar dari 2009 hingga akhir tahun 2019, Dewi menerima upah sebesar Rp88 ribu hingga paling besar Rp186 ribu setiap bulan.

“Akhir tahun 2019, saya memilih mengundurkan diri karena enggak kuat naik turun tangga karena hamil kembar waktu itu jadi besar banget, dan alhamdulillah Januari 2020 saya melahirkan. Sebenarnya ada pilihan cuti waktu itu, tapi ditanyakan kapan masuknya saya kan jadi enggak enak. Akhirnya saya resign dulu,” ungkap Dewi kepada ACTNews, Jumat (28/8).

Meski sedang berhenti mengajar karena melahirkan, Dewi masih menaruh harapan besar untuk bisa menjalani kembali profesi yang ia cintai sebagai guru. Kecintaannya pada bidang pendidikan jugalah yang menjadi alasan perempuan kelahiran Jakarta ini tetap bertahan menjadi guru walau selama 10 tahun berstatus sebagai honorer bergaji rendah.

Kalau mau cari pekerjaan yang lebih bisar gajinya itu banyak banget, tapi saya sudah terlanjut senang mengajar, jadi tulus buat pengabdian. Kalau dihitung (pendapatan) cukup enggak cukup. Makanya saya cari penghasilan lain lewat mengajar privat dari rumah ke rumah, ada juga yang datang ke rumah saya,” ujar Dewi.

Dewi mengungkapkan, lewat tambal sulam penghasilan melalui jalur les privat tersebut, ia bisa mengantongi pendapatan Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per bulan untuk mengajar murid tingkat SD dan SMA. Dan, ia berencana untuk kembali mengajar reguler di sekolah saat kondisinya sudah memungkinkan.

Tak diberi utang

Sejak adanya pandemi Covid-19, Dewi dan keluarganya pun merasakan dampaknya, khususnya ekonomi akibat pembatasan aktivitas. Selain karena hamil dan melahirkan yang memaksanya berhenti dari kegiatan belajar reguler, saat ini pandemi pun memaksa Dewi untuk tak mengajar privat. Hal ini sangat berpengaruh pada penghasilannya.

Akibat kesulitan ekonomi yang dirasakan, Dewi bercerita, ketika tidak adanya lagi bahan makanan yang bisa dikonsumsi, ia dan suami mengambil sejumlah daun singkong dan beberapa dedaunan lainnya dari kebun belakang rumah untuk dijadikan makanan.

“Suatu waktu kami pernah nekat utang di warung (dekat rumah). Waktu itu utang cumi kering yang sebungkus Rp12 ribu, tapi  karena yang punya warung enggak yakin kita sanggup bayar, akhirnya enggak dikasih. Ya sudah yang ada saja seperti singkong, bayam, katuk itu yang dikonsumsi. Kadang juga biji nangka jadi makan malam kami,” tutur Dewi yang sudah tinggal di Setu sejak kecil.

Dewi dan sang suami yang sebelumnya berprofesi sebagai juru parkir pun berharap, setelah pandemi usai, Dewi bisa beraktivitas lagi dengan normal. Menjalani profesi yang Dewi cintai sebagai guru untuk mengabdikan diri berkontribusi guna mencetak generasi penerus bangsa yang terbaik.

“Biaya hidup yang sekarang mendesak untuk dipenuhi. Tapi, kita jalani saja dengan ikhlas, insyaallah mudah-mudahan setelah corona bisa bangkit lagi, bismillah saja. Suami juga kepengen dagang cabai, mudah-mudahan nanti bisa terpenuhi harapan sama modalnya,” ungkap Dewi. []


Bagikan