Tangani Siklus Kemarau, ACT NTB Perluas Distribusi Air Bersih

Siklus musim kemarau telah memasuki puncaknya di Juli ini, kekeringan terjadi di beberapa wilayah di Pulau Lombok. Warga mulai kesulitan memperoleh air bersih. Mereka pun harus berjalan beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih.

ACTNews, LOMBOK TIMUR – Aksi Cepat Tanggap Nusa Tenggara Barat (ACT NTB) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) kembali mendistribusikan kebutuhan air bersih untuk masyarakat Lombok, khususnya mereka yang tinggal di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur,  Jumat (28/6).

Kepala Program ACT NTB Romi Saefudin mengatakan, Desa Sajang dan Beluk Petung menjadi wilayah dengan tingkat kekeringan terparah saat ini. “Sejak pemulihan gempa, ACT masih menyuplai kebutuhan air warga di kedua desa tersebut,” kata Romi.

Tidak berhenti sampai di situ, seiring meluasnya kekeringan, Romi mengatakan, ACT akan berikhtiar menambah armada untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga di beberapa desa Lombok Utara dan Lombok Timur. “Selain itu, program Sumur Wakaf masih terus berjalan di beberapa lokasi yang dinilai sangat membutuhkan air bersih,” lanjut Romi.


ACT NTB melalui Global Wakaf pun tengah memetakan penambahan lokasi pengeboran Sumur Wakaf. Menurut keterangan Romi, asesmen masih dilakukan di daerah Gunung Sari, Lombok Barat dan Bayan, Lombok Utara, juga di beberapa wilayah Lombok Timur. “Sumur Wakaf ini akan dibangun untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga. Untuk lokasi yang kekeringannya tidak begitu parah akan disuplai dengan armada water tank sampai kondisi warga kembali normal,” lanjut Romi.

Program Sumur Wakaf pun akan diikhtiarkan menjangkau Bima, Dompu, dan Sumbawa. “Beberapa wilayah di sana juga mengalami kekeringan,” tambahnya.

Pada Kamis (27/6) lalu, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofidika (BMKG) merilis status kekeringan di NTB yang sudah memasuki level Siaga. Provinsi ini sudah mengalami >31 hari tanpa hujan (HTH).

Sementara itu, ahli sains atmosfer Tri Wahyu Hadi mengatakan, secara umum, iklim di Indonesia, termasuk Lombok, dikendalikan oleh sirkulasi monsun Asia-Australia, yakni aliran udara atau angin di lapisan bawah atmosfer yang melintasi ekuator di atas Indonesia dan berganti arah tiap setengah tahun. Selain perubahan curah hujan, dia menambahkan, ada peningkatan temperatur rata-rata hampir setiap bulan sebesar 0,5 derajat Celsius, sebagaimana dilansir dari laman, World Wide Fund.[]