Tangis di Balik Tawa Badut Jalanan di Kota Malang

Berbagai risiko harus diambil para pekerja badut jalanan di Kota Malang, Jawa Timur. Di tengah tangisan kebutuhan hidup mereka harus selalu tertawa dan menghibur para pengendara.

Badut jalanan
Paiman, salah seorang pekerja badut jalanan di Kota Malang tengah menggunakan kostum karakter Doraemon. (ACTNews)

ACTNews, KOTA MALANG – Berbagai kebijakan pembatasan kegiatan demi menekan laju penyebaran virus Covid-19 terus dilaksanakan di sejumlah daerah, salah satunya di Kota Malang, Jawa Timur. Namun, di sisi lain, kebijakan ini turut dirasakan para pekerja harian yang tidak memiliki penghasilan tetap dan harus mengais rezeki dari hari ke hari.

Paiman, salah seorang badut jalanan menceritakan, tidak mudah mencari nafkah dengan cara mengamen menjadi badut. Sebelumnya, ia adalah seorang pemulung yang mencari barang bekas di komplek-komplek perumahan di Kota Malang. Namun, adanya pandemi Covid-19 membuat wilayah perumahan menjadi ditutup dan tidak bisa dikunjungi sembarang orang.

“Sedangkan kebutuhan kami di rumah sangat menuntut. Anak-anak (tetap) sekolah, belum lagi kebutuhan perhari, listrik juga tetap bayar. Akhirnya kami beralih pekerjaan demi tuntutan ekonomi,” ungkap Paiman.

Pria yang juga dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Badut Madyopuro ini, telah mengayomi 20 orang pekerja badut jalanan lain yang sama-sama menggantungkan hidupnya dari kepedulian para pengendara mobil dan sepeda motor. Tidak jarang, Paiman dan pekerja badut lainnya sambil menjajakan stiker klub sepak bola kebanggaan masyarakat Malang yakni Arema FC.

“Yang paling nelongso itu kalau ada mobil yang terbuka kacanya, kita sedang bergoyang-goyang itu orang (yang di dalam mobil) diam dan menolak. Kalau diam saja, kita bingung seperti tidak dianggap. Ada juga yang nolaknya secara agak emosi itu ada,” tutur Paiman.

Berbagai risiko harus diterima para badut jalanan ini, mulai dari terserempet kendaraan hingga menjadi target pengejaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Terlebih, potensi terpapar virus Covid-19 juga menjadi risiko yang paling ditakutkan.

Penghasilan yang tidak menentu menjadi keresahan bagi para pekerja badut jalanan. Melalui Paguyuban Badut Madyopuro, sistem upah diatur sedemikian rupa agar terbagi rata kepada tiap anggotanya. Kini, Paiman dan pekerja badut lainnya tengah berharap di tengah tangisan kebutuhan hidup harus selalu tertawa dan menghibur para pengendara.[]