Tanpa Teori, Awal Misdi Berkenalan dengan Ilmu Tani

Meskipun sempat mengenyam pendidikan tinggi, Miadi tak sungkan untuk turun langsung ke sawah. “Saya tidak malu walau dibilang bisa berkuliah, tapi kok tetap jadi petani? Buat saya, petani itu sudah mendarah. Sejak kecil diajari bapak bertani. Tidak memiliki teori, tetapi terbiasa dengan ilmu tani,” ujar Misdi.

Misdi (64) di sawah. (ACTNews)

ACTNews, PONOROGO – "Mungkin saya ditakdirkan menjadi petani, Mas," ujar Misdi (64) menceritakan kisahnya kepada Tim Global Wakaf-ACT kala itu. Ia mengingat-ingat, sudah banyak hal yang ia lakukan untuk menjadi guru. Dimulai dengan menempuh sekolah di pendidikan guru agama, sempat berkuliah di IKIP Ponorogo, bahkan empat kali mengajukan permohonan menjadi pengajar. Namun kesempatan itu tidak juga datang kepada Misdi.

Sawah, adalah tempat Misdi bekerja saat ini. Ia adalah sosok penggerak kelompok tani di Desa Semanding, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Rumahnya ia sediakan menjadi posko untuk pendampingan program Wakaf Sawah Produktif dari Global Wakaf – ACT.

Meskipun sempat mengenyam pendidikan tinggi, Miadi tak sungkan untuk turun langsung ke sawah. “Saya tidak malu walau dibilang bisa berkuliah, tapi kok tetap jadi petani? Buat saya, petani itu sudah mendarah. Sejak kecil diajari bapak bertani. Tidak memiliki teori, tetapi terbiasa dengan ilmu tani,” ujar Misdi.

Pengalaman bertani Misdi memang dimulai sejak sekolah dasar. Saat itu, ia membantu orang tuanya di sawah. Saat ini, Misdi menggarap penuh sawah orang tuanya seluas 1.400 meter setelah sang ayah tiada, sembari mengurus ibunya yang sudah sepuh.


"Jika dihitung-hitung, hasil dari sawah ini ya kurang, Mas. Tapi saya ikhtiar, kerja keras, pokoknya anak-anak harus sekolah tinggi," cerita bapak kelajiran Januari 64 tahun lalu itu.

Kedua anak Misdi memang tengah bersekolah di Universitas Negeri Surabaya berkat hasil dari kerja keras menggarap sawahnya.

Ia pun bersyukur hadirnya program Wakaf Sawah Produktif tidak hanya membantu petani dari segi alat produksi, namun juga edukasi melalui pendampingan yang diberikan.

"Jadi saya bisa belajar teori juga. Kita petani ini butuh yang bimbing. Melalui program-program dari Global Wakaf – ACT, saya berterima kasih sekali. Menggarap sawah tidak lagi asal-asalan," pungkas Misdi.[]