Tantangan Menyiapkan Rumput Odot di Kemarau Panjang

Tantangan Menyiapkan Rumput Odot di Kemarau Panjang

ACTNews, TASIKMALAYA – Tanda tanya, doa, dan ikhtiar yang harus dimulai sejak pagi sekali. Tiga hal inilah yang selalu menjadi rutinitas awal bagi puluhan peternak di Lumbung Ternak Masyarakat (LTM), Desa Wakaf - Desa Cintabodas, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Hari-hari kurban tinggal menghitung hari, tantangan demi tantangan baru datang silih berganti.  

Sementara amanah untuk menyiapkan hewan kurban terbaik, bukan urusan yang sederhana. Segala hal detail dipikirkan, apalagi untuk masalah pakan. Bukan sekadar pakan konsentrat biasa, tapi pakan odot. Rumput odot dengan nama latin Dwarf Elephant Grass atau Mott Elephant Grass menjadi kunci, sumber nutrisi untuk lebih dari 2.500 domba kurban di LTM Cintabodas.

Mengapa harus diawali dengan tanda tanya? Lantarannya, hari-hari menjelang kurban ini adalah hari-hari kemarau. Kemarau berarti kering, kemarau berarti hujan nihil, dan kemarau berarti tantangan berat datang untuk menemukan pakan terbaik. Sudah beberapa bulan terakhir, hujan tak kunjung turun.

Tanda tanya yang muncul adalah tanya untuk dipikirkan bersama jawabannya. Tanya yang selalu terulang setiap harinya, di mana lagi rumput odot bisa dipanen hari ini?

“Seingat saya, hujan terakhir di Cintabodas beberapa hari setelah lebaran (Idulfitri). Setelah itu kering. Rumput odot di lahan wakaf LTM Cintabodas hampir semuanya sudah dipanen. Masih beberapa minggu lagi sampai siap dipanen kembali,” ujar Rosman, Koordinator LTM Desa Wakaf – Desa Cintabodas. 

Tantangan menemukan odot di tengah kemarau

Beranjak dari segelas kopi, topi, dan arit di pinggang, puluhan peternak memulai pagi di Saung Sekretariat LTM Cintabodas. Pagi itu, di pekan ketiga Juli 2018, Olih Suharsa, salah satu peternak di LTM, duduk bersandar di tiang saung. Sembari menghirup aroma kopi hitamnya, Olih mengajukan tanya ke kawan-kawan peternak lain.  

“Itu (rumput) odot di Citomas sudah bisa dipanen belum ya?” tanya Olih.

Pertanyaan itu pun dijawab kawan-kawan Olih dengan berpikir dan menghitung. Menghitung sudah berapa pekan lalu rumput odot di Citomas dipanen. Idealnya, rumput odot bisa dipanen dalam umur 35 hari sekali, tapi itu kalau musim hujan. Sementara di musim kemarau panjang ini, rumput odot baru bisa dipanen kalau umurnya sudah 40-50 hari.

Rosman mengatakan, lahan odot yang dimiliki dan dikelola LTM dengan konsep wakaf tersedia seluas 12 hektare. Namun, kemarau datang menyapa. Mau tak mau tantangan untuk menemukan rumput odot tak bisa dianggap sederhana.

“Kalau rumput odot di satu sudut lahan sudah selesai dipanen, berarti musim kemarau ini harus menunggu lebih dari sebulan sampai odot itu bisa dipanen lagi,” kata Rosman.

Rosman punya hitung-hitungannya. Menurutnya, dalam satu hari harus disiapkan paling tidak 210 karung rumput odot. Masing-masing karung berisi rata-rata 30 kilogram. Kalau ditotal, dalam sehari berarti harus disiapkan rumput odot sebanyak 6.300 kilogram. Atau setara dengan enam ton lebih!

“Urusan pakan paling penting. Jumlahnya tidak boleh kurang sedikit saja. Ini tentang amanah memastikan domba untuk Global Qurban dalam kondisi terbaik dan bobotnya sesuai standar,” ujar Rosman.

Pagi itu, meninggalkan gelas-gelas kopi yang sudah tandas, puluhan peternak LTM membagi tugas masing-masing. Sebagian ke kandang, sebagian ke pabrik pengolahan rumput odot, sebagian lainnya termasuk Kang Olih, memulai pekerjaan utamanya: mencari rumput odot yang bisa dipanen.

Satu hal yang unik, topi bahkan jilbab yang diambil dari kepunyaan istri atau anak di rumah juga dibawa. Mengapa jilbab? Kang Olih berkata, jilbab itu untuk melindungi leher dari getah rumput odot. “Kalau tidak pakai jilbab yang menutup leher, alergi gatal terkena odot bisa berhari-hari,” ujarnya sembari terkekeh

Warga ikut memberdayakan rumput odot

Dengan beberapa motor dan mobil bak terbuka aset Desa Wakaf - Desa Cintabodas, Kang Olih dan timnya bergerak menuju Citomas. Masih di Kecamatan Culamega, hanya berselisih bukit dari Desa Cintabodas. Di Citomas, Kang Olih dan timnya menjawab tanda tanya sembari melepas doa, semoga ada rumput odot yang bisa dipanen hari ini.

Tiba di satu lahan luas berundak-undak, jalan desa dengan lebar satu mobil, berubah menjadi jalan setapak. Kang Olih dan lima kawannya bersiap dengan arit dan timbangan. Rautnya berubah lega, ada rumput odot berusia siap panen di depan mata.

“Alhamdulillah ada rumput untuk hari ini. Nantinya kami beli rumput odot ini ke warga pemilik lahan, dengan harga Rp 250 per satu kilogramnya,” kata Kang Olih.

Membeli dari warga berarti memberdayakan. Ya, di musim kemarau panjang ini banyak warga di desa-desa tetangga Cintabodas yang sengaja mengubah lahannya menjadi lahan rumput odot. Hal ini karena memang sifat rumput odot itu bisa tumbuh di musim kemarau dengan tanah yang tingkat kesuburannya rendah.

Bahkan Kang Olih bercerita, walau kemarau datang dan tantangan mencari rumput odot menjadi makin sulit, tetap saja ada warga yang akhirnya menelepon ke LTM. Mereka mengabarkan rumput odot di lahannya bisa dipanen.

“Di musim-musim kemarau gini, kalau sudah ada yang menelepon ngasih tahu ada rumput odot, rasanya bahagia. Akhirnya domba-domba di LTM bisa terjamin (pasokan) makannya hari ini,” kata Kang Olih.

Sampai menjelang sore, ratusan rumput odot yang baru saja dipanen, dibawa ke pabrik pengolahan pakan. Lokasinya berada tepat di pinggiran jalan. Pabrik ini punya latar lahan wakaf perbukitan hijau, bukit yang juga ditanami rumput odot, namun belum cukup umur untuk dipanen.

Satu mesin pencacah rumput bersuara lantang. Pisau tajamnya diputar dinamo listrik, sekali masuk seikat rumput odot berbobot 25 kilogram bisa hancur terpotong kecil-kecil. Potongan yang pas untuk dipangan domba-domba di LTM.

Dari urusan mencari rumput odot, mengarit rumput ke dalam karung-karung, hingga mengolah total enam ton lebih rumput odot membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sejak pagi sekali, hingga selepas Asar seluruh proses pengolahan pakan baru selesai. Lelah berpeluh, ditambah gatal luar biasa dari rumput odot, menjadi hal biasa.

Enam ton lebih rumput odot kemudian dibawa ke kandang-kandang LTM Cintabodas. Butuh tiga mobil, berkali-kali rit bolak-balik dan durasi tidak kurang sejam untuk membawa 210 karung odot dari pabrik. Sore datang sebagai pertanda saatnya domba-domba LTM diberi pakan.

Kang Olih dan kawan-kawan peternak lain bergegas menghabiskan sore, menuang rumput odot ke kandang-kandang domba. Suara mengembik sahut-menyahut melegakan hati Kang Olih. Ia hanya menitip doa, agar esok sampai hari-hari berikutnya tetap ada rumput odot yang bisa dipanen di tengah kemarau.

“Ribuan kilo odot yang kami panen setiap hari, rezeki untuk domba-domba Global Qurban di LTM Cintabodas. Amanah Global Qurban ini besar. Doakan akang dan kawan-kawan peternak di sini tetap sehat fisiknya,” tukas Kang Olih. []

Tag

Belum ada tag sama sekali