Tarawih Pertama di Masjid Al-Falaq Pascalongsor Pacitan

Tarawih Pertama di Masjid Al-Falaq Pascalongsor Pacitan

ACTNews, PACITAN – Memori tentang duka dan pilu itu bakal sulit sirna dalam benak ribuan warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Akhir November 2017 silam, banjir dan longsor datang bersamaan, membuat lumpuh seluruh Pacitan. Diawali dengan anomali cuaca berupa Siklon Tropis Cempaka, curah hujan ekstrem turun deras selama berhari-hari. Bahkan, jarak pusaran Siklon Tropis Cempaka dengan daratan Pacitan kala itu, hanya sekitar 23 kilometer saja di lautan lepas Samudera Hindia.

Selama dua hari berturut-turut, banjir dan longsor datang bersamaan dengan gelombang tinggi di laut Selatan Pacitan. Sungai meluap, longsor melanda sejumlah desa. Longsor bahkan sempat menutup seluruh akses jalan dari dan menuju Pacitan. Tak hanya itu, beberapa hari pascalongsor, BNPB merilis data, banjir bandang dan longsor Pacitan telah merusak ribuan rumah. Termasuk membuat ambruk puluhan masjid dan musala.

Tarawih pertama di Masjid Al-Falaq

Salah satu kerusakan parah pascalongsor itu menimpa Masjid Al-Falaq, masjid yang dahulunya selalu ramai jamaahnya. Masjid tersebut berada di pelosok Kabupaten Pacitan, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, Pacitan.

“Sejak masjid tertimbun longsor akhir tahun lalu, kami tidak dapat melaksanakan salat Jumat. Kegiatan yang biasanya berjalan, menjadi sepi karena tidak ada tempat pengganti,” ujar Katno, warga Dusun Karjan.

Namun kini di awal Ramadan, tak ada lagi sisa runtuhan masjid. Justru sebaliknya, yang ada adalah optimisme untuk bangkit, menggeber pemulihan. Miskadi namanya, seorang warga lokal, dengan tulus mewakafkan sebidang tanahnya berukuran 10x10 meter untuk pembangunan lagi Masjid Al-Falaq.

“Saya niatkan wakaf ini atas nama orang tua saya. Selebihnya saya berharap masjid ini dapat meningkatkan keimanan warga Desa Kluwih, meningkatkan gotong royong warga untuk pulih setelah bencana banjir dan longsor lalu,” ujar Miskadi.

Tim pemulihan pascabencana ACT Jawa Timur melaporkan, meski berpuasa, warga tak surut bergotong-royong membangun kembali masjid Al-Falaq. Hanya berselang dua bulan usai pondasi pertama ditanam, kini tiap malam Ramadan, Masjid Al-Falaq telah bisa digunakan untuk jemaah Tarawih.

“Sudah sejak Maret 2018 kemarin, kepedulian mengalir dari para muhsinin untuk membangun kembali Masjid Al-Falaq. Kepedulian datang khususnya dari Manajemen Masjid Baitul Izza (MMBI) dan Serikat Karyawan Bank Indonesia,” kata Ponco Sri Ariyanto, Kepala Cabang ACT Jawa Timur.

Usai salat Tarawih, keramaian tiap saf-saf di Masjid Al-Falaq tak berkurang. “Warga melanjutkan dengan kegiatan tadarus Al-Quran. Alhamdulillah di Ramadan hari pertama kemarin, Tim ACT yang datang jauh dari Kota Surabaya ikut salat tarawih bersama kami. Tim ACT juga datang menyalurkan bantuan mushaf Al-Quran,” kata Katno, yang juga menjadi Tokoh Masyarakat Desa Kluwih ini.

Dari sisi luar, pembangunan kembali Masjid Al-Falaq belum selesai seluruhnya. Tembok luarnya belum berwarna. Beberapa bahan-bahan bangunan pun masih berserak di sana-sini, tanda kalau setiap hari masih ada proses pembangunan, digeber dengan kekuatan gotong royong warga Desa Kluwih.

Namun di sisi dalam Masjid, karpet tebal berwarna merah sudah digelar, cat bagian dalam pun sudah rampung dilapisi di tembok semen. “Alhamdulillah, bagian dalam Masjid Al-Falaq sudah hampir selesai seluruhnya. Jadi tempat paling nyaman bagi warga Desa Kluwih untuk mengisi waktu selepas Tarawih. Tiap saf Tarawih yang terisi menunjukkan seberapa hebat rasa gotong royong yang dimulai warga Desa Kluwih,” pungkas Ponco. []

Tag

Belum ada tag sama sekali