Tekad Supono Menjadi Guru Hingga Wafat

Supono menjelaskan, guru menjadi mulia karena mengajari anak menjadi pintar. “Allah mengutus Rasul kepada orang-orang yang buta huruf, lalu membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, mengajarkan mereka tentang kitab Allah dan hikmah. Guru juga demikian, mengajarkan murid membaca, menulis, menghitung, agar mereka mengerti tentang banyak hal, terutama Agama-Nya,” jelasnya.

guru honorer supono
Supono saat mengajari siswa di kelas (ACTNews)

ACTNews, KLATEN – Guru adalah pekerjaan mulia. Hal tersebut betul-betul diyakini Supono, seorang guru honorer di Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Sebab itu, ia bertekad menjadi guru hingga wafat.

Supono menjelaskan, guru menjadi mulia karena mengajari anak menjadi pintar. “Allah mengutus Rasul kepada orang-orang yang buta huruf, lalu membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, mengajarkan mereka tentang kitab Allah dan hikmah. Guru juga demikian, mengajarkan murid membaca, menulis, menghitung, agar mereka mengerti tentang banyak hal, terutama Agama-Nya,” jelasnya.

Supono melanjutkan, amanah tersebut membuat ia ingin menjalani profesi guru, meski ia tahu gaji guru tidaklah seberapa. Gaji pertama sebagai guru honorer pada 2007 sebesar Rp150 ribu per bulan. 

Selain menjadi guru untuk anak-anak didiknya, Supono juga harus memberikan pendidikan khusus kepada anak pertamanya yang tuli.

Untuk mendukung perjuangan Supono mengajari siswa ilmu, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup, Senin (18/10/2021). Selain Supono, delapan guru honorer sekolah berbeda di Klaten juga menerima bantuan yang sama.[]