Terdampak Pandemi, Kampung Penampungan Kosong Pekurban

Di Kampung Penampungan, sebagian warga yang merupakan pekerja harian kesulitan mendapatkan penghasilan. Dampaknya, tak ada kurban dari kampung mereka pada tahun ini, tak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Parkiran kendaraan di Kampung Penampungan karena kendaraan tidak bisa masuk perkampungan. (ACTNews/Andri Rahmat Putra)

ACTNews, SURABAYA – Di balik megahnya bangunan-bangunan di Kota Surabaya, terdapat suatu perkampungan padat penduduk yang berjarak tidak jauh dari pusat kota. Kampung Penampungan namanya, yang terletak di Kecamatan Bubutan. Disebut demikian lantaran sebagian besar penghuni perkampungan ini adalah korban kebakaran Pasar Turi pada 2007 silam. Masyarakat ini ditampung oleh Pemerintah Kota Surabaya ke lokasi tersebut, dan sampai menjadi perkampungan hingga saat ini.

Pekampungan ini dihuni oleh sekitar 350 keluarga yang berkumpul dalam satu lingkup bangunan dengan gang sempit dan luas rumah rata-rata hanya berukuran 3x4 meter persegi. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai pekerja harian seperti tukang bangunan, pedagang kaki lima, tukang becak, pembantu rumah tangga, dan pengemudi ojek daring.

Ketika pandemi datang, mau tak mau para pekerja harian ini juga mengalami penurunan pendapatan. Kondisi paceklik ini terus berlangsung sampai saat ini. Beberapa hari menjelang Iduladha, Kholil (53) salah satu ketua RW di Kampung Penamungan, bahkan mengonfirmasi bahwa tahun ini tidak ada satu pun dari warganya yang berkurban.


Anak-anak Kampung Penampungan yang sedang bermain di gang sempit. (ACTNews/Andri Rahmat Putra)

“Tahun ini tidak ada yang berkurban, karena sebagian besar masyarakat terdampak pandemi dan kehilangan penghasilan,” ujar Kholil pada Rabu (15/7) lalu.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Kholil menyebutkan di kampungnya selalu ada yang berkurban sekalipun dengan jumlah hewan yang sedikit. “Kalau tahun-tahun sebelumnya biasanya ada, cuma jumlah hewannya enggak banyak. Dan jika rata-rata masyarakat sini dapat kurang dari satu kilogram. Itu pun dicampur dengan jeroan,” imbuhnya.


Melalui Tim Global Qurban - ACT, Kholil mengungkapkan bahwa dirinya berharap tahun ini agar ada dermawan yang berkenan untuk menyalurkan hewan kurban untuk perkampungannya. Ia berharap masyarakat Kampung Penampungan yang saat ini hidup dalam kesukaran akibat pandemi, tetap bisa merasakan kebahagiaan kurban dan melupakan sementara permasalahan ekonomi yang sedang dialami.

Mashudi dari Tim Program Global Qurban - ACT Jawa Timur berharap nantinya akan ada dermawan yang bisa menunjukkan kepeduliannya kepada Kampung Penampungan. “Kita berharap nantinya akan ada peran para dermawan yang menyapa masyarakat di Kampung Penampungan. Semoga di kampung ini, amanah para dermawan dapat hadir memeriahkan Iduladha mereka,” harap Mashudi. []