Terimbas PSBB, Apa Kata Mereka?

Sejumlah pedagang di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Selatan, merasakan betul imbas dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat dari adanya pandemi. Beberapa dari mereka mengeluhkan pendapatan yang berkurang lebih dari setengahnya.

Terimbas PSBB, Apa Kata Mereka?' photo
Seorang pedagang cilok di kawasan rumah di pinggir rel di Pejompongan. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Sebagaimana masyarakat khawatir dengan virus corona yang mendampak kesehatan, mereka juga mengkhawatirkan kondisi ekonomi keluarga. Seperti yang terjadi ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengumumkan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dimulai sejak 14 September lalu, sebagai upaya penekanan penyebaran pandemi di ibu kota. Sejumlah pekerja harian mengaku kondisi ekonominya makin terhimpit karena aktivitas yang terbatas.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus berikhtiar menyapa masyarakat di masa PSBB ini. Salah satunya melalui program Operasi Beras Gratis pada Senin (21/9) kemarin, di mana sebanyak 300 paket beras terdistribusikan kepada masyarakat prasejahtera yang tinggal di pinggir rel Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga mengungkapkan pendapat dan pendapatan mereka dengan adanya PSBB.


Takut, Tapi Kita Mau Makan Apa?

Anggi (28) berjualan donat pesanan orang-orang, sementara suaminya berdagang sembako. Dengan itu mereka menghidupi kedua anaknya beserta satu orang keponakan di rumahnya. “Kasihan, bapaknya cuma penggali kuburan di kober sana,” cerita Anggi.

Namun, penghasilan pun kini tidak stabil semenjak adanya pandemi. Sepinya kegiatan masyarakat membuat dagangan mereka ikut terdampak. Dalam satu hari suaminya yang mendapatkan omzet Rp1 juta per hari, kini mengantongi Rp300 ribu setiap kali pulang ke rumah. “Terutama kan beras. Karena beras sekarang juga semua dapat, jadi beras saya enggak laku,” ungkap Anggi.

Anggi dilema. Di satu sisi tentu ia takut dengan hadirnya Covid-19 tetapi di sisi lain, pergerakan yang terbatas membuat ia mau tak mau harus tetap berjualan. Sehingga ia berharap Covid-19 cepat berlalu dan kembali normal. “Takut sih, takut mah ada. Cuma dagang tetap harus jalan. Kita mau makan apaan?” tanya Anggi.


Pasar Sepi, Susi Merugi

Susi Nuraini (43) masih beristirahat sore itu di rumahnya. Warung kelontong di depan rumahnya baru saja akan buka. Sementara pada pagi hari, Susi adalah penjual ayam di sebuah pasar. Sehingga, warung kelontong adalah penghasilan tambahan bagi Susi. “Kalau warung bukanya enggak tentu, karena paginya saya dagang di pasar,” ujarnya.

Tapi pasar belakangan sepi semenjak dilakukan PSBB. Penghasilannya menurun jauh di pasar, bahkan hanya menyisakan sekitar 25% dari yang ia dapatkan biasanya. “Katakanlah kita dapat Rp1 juta setiap hari. Sekarang, ya paling cuma Rp 250 ribu. Sepi sekarang mah,” ujar Susi.

Harapan Susi tentu agar Covid-19 yang tengah merebak ini cepat hilang. Sehingga ia kembali dapat menjalani aktivitas dengan lancar. “Pinginnya udah aja, cepat-cepat selesai. Kalau PSBB begini kan pasar juga ikut sepi. Kena semua kita,” ucap Susi.


Penghasilan Supriyadi Tak Sampai Setengahnya

Warung di depan Supriyadi (48) jika keadaan normal, adalah tempat orang-orang duduk dan mengobrol banyak hal. Ia membangun atap dari terpal kecil di depan gang itu, dan menyediakan kopi serta camilan-camilan lainnya. Warung sederhana inilah yang menjadi tempat Supriyadi mengais nafkah.


Warung Supriyadi yang sepi semenjak Covid-19. (ACTNews/Reza Mardhani)

Semenjak orang-orang mengurung diri di rumah, tentu tidak ada lagi pemesan kopi yang duduk di depan warung Supriyadi. Ia merasakan betul perbedaan sebelum dan sesudah PSBB dan sebelumnya. “Ya berasa, penghasilannya minim enggak sampai setengahnya. Cuma 20% dari normalnya,” ujar Supriyadi. “Iya itu imbas dari PSBB-lah, ya. Yang duduk-duduk juga enggak boleh, yang kumpul-kumpul juga enggak boleh,” jelasnya.

Supriyadi pun berterima kasih dengan adanya bantuan dari ACT melalui Operasi Beras Gratis. “Banyak-banyak terima kasihlah. Semoga dengan adanya bantuan dari ACT bisa meringankan beban kita-kita (warga) sekarang ini,” ungkapnya.

Demikian juga harapan Fuad Mursidi dari Tim Program ACT Jakarta Pusat. “Dan kita mengajak para dermawan semua untuk terus membersamai mereka yang kini sedang menghadapi kesulitan ekonomi dari Covid-19. Mudah-mudahan dengan sinergi dari para dermawan semua dapat meringankan beban mereka selama masa PSBB ini,” ajaknya. []


Bagikan

Terpopuler