Terkena Peluru Panas Israel, Oday Sobhi Butuh Uluran Tangan Dermawan Indonesia

Mendukung keluarga Oday Sobhi, Aksi Cepat Tanggap telah mengkampanyekan program Sister Family Palestine-Indonesia. Program ini bertujuan menjembatani keluarga Indonesia dan Palestina yang membutuhkan.

Oday Sobhi bersama anak dan istrinya. (ACTNews)

ACTNews, PALESTINA Oday Sobhi Jaballah, salah satu warga Palestina yang tinggal di kamp Jabalia, harus mengalami cacat karena kaki kirinya terkena tembakan tentara Israel. Ia kini tidak bisa berjalan normal.

Kondisi itu membuat Oday Sobhi tidak bisa mencari nafkah untuk istri dan dua anaknya. Mereka hidup dalam kekurangan.  Oday Sobhi juga membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan. Namun, ekonomi keluarganya yang tidak berkecukupan membuat ia membutuhkan banyak bantuan dari dermawan.

Keluarga Oday Sobhi memerlukan biaya kurang lebih setara Rp4,17 juta setiap bulan untuk makanan, peralatan sanitasi, obat-obatan, kebutuhan sekolah, transportasi, tagihan listrik dan air bersih.

Mendukung keluarga Oday Sobhi, Aksi Cepat Tanggap telah mengkampanyekan program Sister Family Palestine-Indonesia. Program ini bertujuan menjembatani keluarga Indonesia dan Palestina yang membutuhkan.

Sister Family Palestine-Indonesia diluncurkan sejak Februari lalu. Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response-ACT memaparkan, saat ini tercatat puuhan dermawan Indonesia telah berpartisipasi membiayai keluarga Palestina yang membutuhkan. Beberapa di antara dermawan tersebut tidak hanya membantu satu keluarga, tetapi hingga lima keluarga sekaligus. Bantuan ini akan langsung diberikan kepada keluarga Palestina yang bersangkutan. 

“Kita mengapresiasi seluruh dermawan yang ingin membantu. Banyak keluarga di Palestina yang membutuhkan uluran tangan kita,” ujar Faradiba. Ia menambahkan, dermawan Indonesia yang tertarik dengan program ini, akan diberikan profil keluarga Palestina yang membutuhkan. Sehingga bisa melihat langsung keadaan mereka. Semakin banyak keluarga Indonesia yang tergerak untuk membantu, maka semakin banyak keluarga Palestina prasejahtera yang diangkat dari kemiskinan.[]