Terus Mendukung Perjuangan Guru di Tengah Pandemi

Pandemi membawa dampak besar bagi berbagai lini kehidupan, termasuk pendidikan. Guru-guru dengan kondisi ekonomi dan akses yang terbatas pun terus memperjuangkan pendidikan anak muridnya.

Terus Mendukung Perjuangan Guru di Tengah Pandemi' photo
Ence saat menerima biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia Global Zakat - ACT. Ia merupakan salah satu guru di Tasikmalaya yang ekonominya masih prasejahtera. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA Bertahun-tahun Ence Ruhimat (58) memilih pendidikan sebagai jalan mengisi waktu kehidupannya. Sarung dan peci jadi teman setianya mengajar anak-anak di Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Falah, Desa Sinarjaya, Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Tak besar gaji Ence dari mengajar. Akan tetapi, hal itu tak menjadikan alasan baginya menyerah demi pendidikan agama anak-anak di kampung halamannya.

Januari lalu, ACTNews berkesempatan bertemu dengan Ence saat menyerahkan biaya hidup bagi guru honorer dan prasejahtera memalui Program Sahabat Guru Indonesia. Saat itu, pandemi Covid-19 belum mewabah di Nusantara. Perjuangan Ence di bidang pendidikan ia lakukan dengan cara mengajar anak-anak tiap siang hingga sore di bangunan MDA Nurul Falah yang kondisinya pun ala kadarnya. Keriuhan khas anak-anak meramaikan suasana, juga kehidupan Ence.

“Sekolah ini dibangun oleh warga sekitar secara gotong royong sekitar tahun 1992. Tujuannya karena warga ingin ada sekolah yang lokasinya dekat dari rumah,” tutur Ence pada Januari lalu saat menjelaskan awal mula MDA Nurul Falah berdiri.

Memang, tak mudah perjuangan Ence selama mengajar anak muridnya. Mulai dari kondisi fisik sekolah yang minim sentuhan renovasi sejak berdiri, alat pendukung pembelajaran terbatas, hingga gaji yang rendah. Namun semua itu dijalani Ence sebagai pengabdiannya untuk masyarakat. Ia pun menyambi kerja dengan memelihara hewan ternak milik orang lain yang nanti ketika berkembang biak Ence baru akan menerima hasilnya. Selain itu, menjadi buruh tani dan bangunan juga menjadi pekerjaan sampingan.

Kini, era telah berganti karena hadirnya pandemi Covid-19. Berbagai lini kehidupan memulai adaptasi kebiasaan baru, termasuk pendidikan, baik mereka yang ada di perkotaan hingga desa yang masih jauh dari akses teknologi seperti tempat Ence mengajar. Bagi Ence, hadirnya pandemi membawa banyak dampak yang agaknya menyulitkan, mulai dari minimnya tatap muka langsung dengan murid serta ekonominya yang tak kunjung membaik.

Melihat kondisi Ence dan guru lain yang kondisinya tak jauh berbeda dengan Ence, Global Zakat - ACT pada September ini kembali menyalurkan dana zakat masyarakat ke guru-guru yang sedang dilanda dampak pandemi. Fauzi Ridwan dari tim program Global Zakat - ACT Tasikmalaya mengatakan, biaya hidup yang diberikan pada awal September ini merupakan apresiasi kepada guru-guru di Tasikmalaya yang selama pandemi tak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Pasalnya, tak sedikit guru di Tasikmalaya yang kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh akibat tak memiliki perangkat komunikasi yang memadai. Alhasil, tak sedikit dari mereka harus rela meminjam gawai teman sesama gurunya atau datang langsung ke rumah-rumah siswa.

“Dukungan masyarakat lewat zakatnya sangat dinanti oleh banyak orang yang membutuhkan, salah satunya guru. Di era pandemi seperti sekarang ini, guru jangan sampai dilupakan. Karena merekalah pahlawan di bidang pendidikan,” jelas Ridwan, Senin (7/9).[]


Bagikan