Tetap Berkurban Walau Pandemi Menghadang

Walaupun tengah mengalami kesulitan ekonomi, masyarakat terus memberikan bantuan terbaiknya kepada banyak pihak. Salah satunya kepada Global Qurban - ACT, yang mendapatkan amanah sebanyak 317 ekor kurban setara kambing pada Maret hingga April ini.

Pekerja di Lumbung ternak Wakaf (LTW) binaan Global Wakaf - ACT sedang mengawasi kambing untuk kurban. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Saat ekonomi melemah, masyarakat kemudian bahu-membahu untuk mendukung mereka yang kurang mampu. Berbagai bantuan mulai dari pangan, Alat Pelindung Diri (APD), hingga bantuan natura, diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Sebagian juga masih menabung kedermawanan untuk momen yang akan datang.

Momen tersebut adalah Iduladha, yang dirayakan dalam satu tahun sekali. Selama sekitar 7 bulan ini, telah terdata 1.441 pekurban yang telah mengamanahkan kurbannya lewat Global Qurban – ACT. Jumlah itu juga terus bertumbuh meskipun pandemi Covid-19 turut menggerogoti ekonomi masyarakat.

“Total pekurban yang ikut program Qurban Progresif per bulan April ini ada 1.441 jiwa. Kalau semenjak bulan Maret, pekurban kita ada di angka lebih dari 300. Jumlah kurban yang masuk juga bertambah sekitar 317 ekor setara kambing,” jelas Desi Susanti dari Tim Kemitraan Global Qurban, Rabu (8/4).


Seorang peternak sedang memberi makan kambing kurban di LTW. (ACTNews)

Wabah corona memang agak mengguncang ekonomi Indonesia. Dilansir dari Kompas, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, krisis akibat pandemi Covid-19 jauh berbeda dengan krisis keuangan 2008 maupun krisis Asia tahun 1998. Sebab, krisis corona menyangkut multi-aspek, yaitu aspek kemanusiaan yang berdampak pada terganggunya aktivitas ekonomi dan pasar keuangan.

Pembatasan aktivitas manusia untuk mencegah penyebaran dengan penjarakan fisik, juga berdampak negatif pada aktivitas ekonomi dan keuangan. Dampaknya meluas, tak hanya di sektor pariwisata, tapi sektor industri hingga informal.


Di bidang keuangan, gelombang aliran modal asing yang keluar semakin membengkak mencapai Rp171,6 triliun sejak 20 Januari 2020. Hal itu pun memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Kemampuan masyarakat untuk membayar angsuran pokok dan bunga juga terganggu. "Dengan kata lain, pandemi Covid-19 memunculkan permasalahan yang sangat kompleks, menyangkut kemanusiaan, ekonomi, dan keuangan," ungkap Perry.

Konsistensi para pekurban ini bisa sedikit menjadi acuan bahwa sekalipun kondisi ekonomi warga kurang stabil, momen kedermawanan tetap berjalan. Desi berharap, kedermawanan ini dapat terus berlanjut karena aksi-aksi kedermawanan juga yang menjadi salah satu solusi dari pandemi ini.

“Kita berharap sekalipun sedang ada dalam masa pandemi, masyarakat masih dapat melanjutkan kedermawanannya. Karena kedermawanan ini juga yang menjadi solusi bagi mereka yang prasejahtera dan tak punya banyak pilihan di tengah kesulitan. Sampai juga nanti saat pandemi berakhir, karena mereka seperti harus memulai lagi kehidupan normalnya dari awal,” kata Desi. []