Tetap Bertahan Meraup Berkah di Kawasan Wisata

Semenjak pandemi, sudah otomatis tempat wisata menjadi lebih lengang daripada hari-hari normal. Hal ini dirasakan juga oleh mereka yang mencari rezeki dari kedatangan wisatawan ke wilayahnya.

Barisan para pedagang pentol bakar dan sempol di tempat Satika berjualan di kawasan Pacet. (ACTNews/Ardiansyah)

ACTNews, MOJOKERTO – Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur beruntung punya lokasi geografis yang sesuai. Udara yang dingin bersambut pemandangan hijau, membuat tempat wisata, pemandian air panas, hingga penginapan menjamur. Banyak masyarakat yang kemudian mengais rezeki di tempat wisata tersebut.

Namun pandemi yang merebak beberapa bulan lalu, sedikit banyak ikut mendampak para pelaku usaha di wilayah Pacet. Salah satunya Satika, yang telah 10 tahun belakangan berjualan pentol bakar dan sempol, cemilan tradisional yang biasa ditemui di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

“Ya, sulit (pandemi sekarang ini). Pendapatannya jauh sama kemarin-kemarin. Kalau lihat orang yang beli tidak seperti dahulu ramainya. Biasanya dapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu, sekarang dapat paling Rp100 ribu,” ungkap Satika ketika sedang berjualan di lapaknya di pinggir jalan daerah Pacet pada Sabtu (17/10) lalu.

Biaya hidup pun mesti ditekan. Jika benar-benar sudah tak lagi beruntung, Satika biasanya akan meminjam uang dari tetangganya sesama pedagang. “Pinjem-pinjem,” ujarnya seraya tertawa. “Pinjam toko lain. Kalau (toko mereka) ramai, ya dikasih. Kalau dahulu masih bisa celeng-celeng Rp50 ribu satu minggu, ditabung. Sekarang tidak bisa jadi pinjam di toko,” cerita Satika. Selain itu, ia masih bisa bertahan dari penghasilan suaminya yang bekerja sebagai pengemudi truk muatan.

Begitu pula dengan Mulyati, seorang tunanetra yang bekerja sebagai pemijat di kawasan yang sama. Mulyati hari itu tampak tak beraktivitas. Dikarenakan pandemi, ia tak lagi menerima pasien dari luar Pacet akibat dari jarangnya masyarakat luar yang datang lagi ke tempatnya.


Mulyati ketika ditemui di rumahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Sepi sekarang, sudah tidak mijet lagi. Dahulu itu mungkin ada 2 sampai 3 orang yang datang dari Kota Mojokerto ke sini, sekarang sudah tidak ada sama sekali. Pijatnya sekarang ya, orang-orang di sekitar sini saja,” ungkap Mulyati.

Seperti pada hari itu, Mulyati sama sekali tak kedatangan pasien. Beruntung, anak-anaknya sudah mampu mencari nafkah sendiri sehingga kebutuhan hariannya juga kini bisa ditopang oleh anak-anaknya.

Di tengah rezeki mereka yang sulit akibat pandemi yang belum usai, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan bantuan makanan siap santap dari Humanity Food Truck dan Beras Wakaf. Bantuan didistribusikan di acara penandatanganan kerja sama antara Global Wakaf – ACT, Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), dan Gerakan Masyarakat Pesantren untuk Ketahanan Pangan Indonesia (Gema Petani) di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Kelurahan Ledok, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

“Sebanyak 1.000 Beras Wakaf dan makanan siap saji kita distribusikan kepada masyarakat dan pedagang sekitar. Beras-beras wakaf kita titipkan kepada koramil, polres, dan masjid setempat untuk disalurkan. Beras Wakaf juga kita berikan kepada beberapa perwakilan pesantren di Jawa Timur untuk diberikan kepada masyarakat sekitarnya. Ini kita lakukan untuk meminimalisir kerumunan,” ujar Jajang Fadli dari Tim Global Wakaf – ACT.

Jajang pun ikut mengajak masyarakat untuk terus memberikan kepeduliannya di masa sulit ini. “Kami mengajak para dermawan untuk terus memaksimalkan kepedulian kita hingga masa pandemi ini berlalu. Dengan semangat kebersamaan, kita dukung kekuatan bangsa ini untuk kembali bangkit,” ajak Jajang. []