Tidak Ada Hujan, Kekeringan di Kenya Makin Mematikan

Di Desa Biyamadow, sebuah desa yang sepi di Kenya Utara, Kabupaten Wajir, pemandangan mengerikan terjadi. Bangkai ternak membusuk berjajar di sisi jalan.

kekeringan kenya
Kekurangan curah hujan telah membunuh tanaman dan memperburuk ketersediaan makanan dan air di Kenya. (Virginia Pietromarchi/Al Jazeera)

ACTNews, WAJIR -- Sejak bulan September, sebagian besar wilayah utara Kenya hanya menerima 30 persen curah hujan normal. Jaringan Sistem Peringatan Dini Kelaparan (FEWS NET) melaporkan, kondisi musim hujan ini merupakan yang terburuk dalam beberapa dekade.

Kekurangan curah hujan mematikan padang rumput, ternak, juga memperburuk ketersediaan makanan dan air. Di Desa Biyamadow, sebuah desa yang sepi di Kenya Utara, Kabupaten Wajir, pemandangan mengerikan terjadi. Bangkai ternak membusuk berjajar di sisi jalan.

Ibrahim Adow, seorang warga Biyamadow mengungkap kekhawatirannya. Selama ia hidup 72 tahun, ia belum pernah melihat kejadian mengerikan seperti itu. Adow juga telah kehilangan lebih dari setengah ternaknya. Sisanya tidak bisa menghasilkan susu dan terlalu kurus untuk dijual.

"Meski dijual tidak ada yang menginginkan ternak saya," katanya.

Tidak adanya curah hujan mungkin saja berlanjut sampai dengan akhir tahun, seperti yang diperkirakan para ahli. Kondisi ini akan menjadi musim hujan yang buruk ketiga berturut-turut sejak Desember 2020.

“Kekeringan yang lebih sering dan lebih lama sedang terjadi,” kata James Oduor, direktur Otoritas Manajemen Kekeringan Nasional (NDMA) Kenya.[]