Tidak Ada Jaminan Masa Depan Siswa Palestina

Siswa di Palestina harus sekolah dengan bayang-bayang serangan dan pecahnya konflik yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Selain itu, putus sekolah menjadi ancaman terbesar para siswa.

Tidak Ada Jaminan Masa Depan Siswa Palestina' photo

ACTNews, GAZA, RAMALLAH – Para siswa segera berlari, sesekali mereka memberikan serangan balik kepada para pemukim Israel yang menimpuki batu ke sekolah mereka. Para siswa tidak dapat berbuat banyak sebab para pemukim itu dalam lindungan tentara Israel. Kejadian itu terjadi di salah satu sekolah di Nablus, Yerusalem, sebagaimana diberitakan Al Jazeera awal Juni lalu.

Loay Adel, salah seorang siswa mengatakan kepada Al Jazeera, seorang permukim Israel menembak lengannya dengan amunisi, tangannya pun terluka. Al Jazeera melaporkan, luka di lengan Loay bisa jadi permanen. “Kami sedang berada di kelas ketika sejumlah pemukim mulai melempari sekolah dengan batu dan peluru. Para siswa segera melindungi diri mereka dengan meninggalkan sekolah. Sejumlah pemukim terlihat membawa senjata dan benda tajam,” cerita Loay sambil menunjukkan bekas luka kepada Al Jazeera. Ia mengaku tengah berjalan ketika seorang pemukim menembak dirinya, peluru pun mengenai lengannya.

Akibat kejadian itu, sejumlah orang tua mencegah anaknya kembali ke sekolah. Mereka lebih memilih mengirimkan anak mereka belajar di sekolah lain, bahkan lebih memilih mengantar anak-anak mereka ke pabrik untuk mendapatkan uang. Fakta itu disampaikan Kepala Sekolah Ayet Al Qut.

“Kami pun terkejut dengan berkurangnya jumlah siswa yang hadir ke sekolah. Sejumlah orang tua takut kehilangan anaknya akibat serangan ini,” ungkap Ayet.

Sedangkan, di wilayah Gaza, para remaja Palestina terlihat mengelilingi truk sampah di wilayah pembuangan akhir Juhoor al Desk, suatu wilayah di tenggara Kota Gaza. Para remaja itu memulung sampah untuk dijadikan bahan daur ulang. Beberapa di antara mereka adalah siswa putus sekolah. Mereka pun memulai aktivitas itu sebelum subuh hanya untuk memperoleh penghasilan kurang dari tiga dolar per harinya, sebagaimana diberitakan National Geographic.

Wissam Adel (15) keluar dari sekolah dan menghabiskan waktunya memilah sampah plastik di tumpukan sampah, yang baunya tidak sedap bahkan merusak kesehatan.

“Kami ingin hidup,” kata Adel kepada National Geographic. Sejak serangan dan kerusakan infrastruktur terjadi di Gaza, ia dan saudara laki-lakinya tidak punya pilihan lain.

Pakaian Adel compang-camping, ia mengenakan sandal plastik, dan setiap hari harus berjalan sekitar satu jam dari sebuah permukiman padat di Gaza ke tempat pembuangan akhir Juhoor Al deek. Menurut National Geographic, ia termasuk beruntung bisa mendapatkan 15 shekels atau setara empat dolar per harinya. Hari itu, ia dan temannya setia menantikan truk PBB datang membawa barang-barang yang dibuang dari tembok seberang: Israel. []

Bagikan