Tidak Ada Lagi “Bumi” yang Nyaman di Gaza

Gaza diprediksi tidak layak huni pada 2020.

Tidak Ada Lagi “Bumi” yang Nyaman di Gaza' photo

ACTNews, GAZA – Paling tidak, setiap satu tahun sekali, pada 22 April, dunia memberikan penghargaan terbaik bagi bumi. Umat manusia tanpa terbatas negara, budaya, bahkan agama memperingati Hari Bumi (Earth Day) secara bersama. Memperingati Hari Bumi berarti juga menjaga keberlangsungan kehidupan semua makhluk hidup yang tinggal di bumi.

Hari Bumi merupakan sebuah gerakan menjaga lingkungan yang dicetuskan pada tahun 1970. Perjuangan agar lingkungan hidup lebih baik dilakukan lebih dari satu miliar manusia di muka bumi. Hal-hal yang dilakukan antara lain meminimalisir efek pemanasan global, menjaga ketersediaan air bersih, dan mencegah pencemaran lingkungan dari berbagai limbah kimiawi.

Namun sayangnya, Hari Bumi seakan menjadi ironi di sejumlah wilayah konflik. Di wilayah-wilayah tersebut, keadaan bumi bahkan disebut tidak lagi menjadi tempat layak tinggal. Blokade hingga pencemaran limbah kimia dari senjata perang membuat faktor-faktor bumi tidak layak tinggal saling berkelindan. Salah satu wilayah itu adalah Gaza, Palestina.

Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyebut Gaza tidak layak huni pada 2020. Narasi Gaza tidak layak huni sejatinya telah disebut-sebut PBB sejak 2015. Keprihatinan itu muncul melihat rekonstruksi ekonomi setelah satu dekade blokade. Koordinator Bantuan UNCTAD untuk Palestina Mahmoud Elkhafif mengatakan, pertanian menjadi sektor tervital dalam penentuan ekonomi Palestina.  “Berdasarkan indikasi studi, di Gaza kehilangan 35 sampai 40 persen di bidang pertanian,” kata Elkhafif.

PBB juga melaporkan, kondisi kehidupan di Gaza semakin memburuk. Rata-rata rumah tangga di Gaza hanya menerima listrik hingga dua jam per hari. Bahkan, air minum hanya mampu diakses 10 persen penduduk Gaza.

Maret 2019, Pusat Biro Statiik Palestina (Palestinian Central Bureau of Statistics/PCBS) menyatakan kepada media, 97 persen sumber air di Gaza disebut tidak memenuhi standar layak Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Hal itu dikarenakan menipisnya cadangan air tanah dengan ketinggian air tanah di akuifer pantai mencapai 19 meter di bawah permukaan laut. Kelangkaan air dan pembatasan Israel pada akses ke sumber daya membuat kota-kota Palestina terpaksa membeli air dari perusahaan air Israel.

Pada 2017, warga Palestina membeli 83 meter kubik air, atau sekitar 22 persen air (dari 375 meter kubik) yang tersedia di Palestina, 23,5 persen lain diproduksi dari mata air Palestina, sementara 264,5 meter kubik air untuk memenuhi kebutuhan warga dipompa dari sumur air tanah, dan hanya 4 meter kubik air minum desalinasi.

Tahun 2020 tinggal menghitung hari, di tahun tersebut peringatan Hari Bumi juga telah mencapai setengah abad. Apakah ada perubahan lebih baik untuk Gaza? Akankah “bumi” Gaza masih layak ditinggali? []

Bagikan