Tidak Ada Lagi yang Tersisa dari Rumah Warni

Rumah Warni hanyut total akibat banjir pada awal tahun 2020 lalu. Ia kerap menangis karena hasil kerja keras bersama anaknya bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam akibat banjir bandang.

Tidak Ada Lagi yang Tersisa dari Rumah Warni' photo
Warni saat menceritakan rumahnya kepada tim Aksi Cepat Tanggap. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BOGOR – Sebuah video memperlihatkan banjir besar dari aliran sungai menerjang beberapa rumah. Gambar selama 30 detik itu fokus kepada sebuah rumah bercat putih dan rumah berwarna biru. Tidak lama kemudian rumah berwarna biru itu roboh. Hanya atapnya terlihat hanyut mengikuti derasnya sungai. “Video ini waktu banjir kemarin viral,” kata seorang relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang memperlihatkan video itu, melengkapi cerita Warni.

Warni juga ada di sana kala momen itu terjadi, namun ia lebih memilih tidur karena tak sampai hati melihat rumahnya. Rumah bercat biru di Kampung Cigowong, Desa Sukamaju itu adalah rumah anaknya. Matanya selalu basah setiap mengingat lagi kejadian awal tahun 2020 itu. Kerap ia mengingat-ingat bagaimana bentuk rumahnya yang kini hanya tersisa lantai.

“Rasanya seperti apa ya, Ya Allah. Sudah seperti ini saja. Dulu banyak perabotan di sini, lalu di sini ada kamar mandi. Sudah hanyut semua,” Warni menunjuk beberapa sudut rumah. “Suka ingat dapat perabotan itu dari mengumpulkan uang sedikit-sedikit. Kalau anak saya dapat gaji setiap bulan suka dikirimkan ke saya, lalu saya belikan perabotan. Nanti kalau dia sudah berhenti bekerja, bisa punya perabotan. Buat anak juga,” jelasnya pada Rabu (19/2) lalu.

Anak Warni sedang berada di luar kampung untuk bekerja dan memang hanya pulang sesekali dalam sebulan, sehingga ia tidak melihat musibah itu. Sebagai ibu tunggal, anak Warni adalah tulang punggung keluarga dan sudah setahun belakangan ia menabung demi membangun rumah di kampungnya.


Lantai tempat rumah Warni berdiri. (ACTNews/Reza Mardhani)

Tapi arus banjir bandang yang hanya berlangsung satu jam itu menghanyutkan hasil kerja keras anaknya. Anak Warni langsung pingsan begitu mendengar rumahnya hanyut. Selama dua pekan setelah itu, Warni juga merasa badannya sering gemetar.

“Namanya juga perempuan yang bekerja, jadi ibu bantu kumpulkan dan berani bangun rumah. Taunya bukan rezeki kita, Allah yang ambil. Beberapa tahun kita kumpulkan uang, lama sekali untuk membangun rumah. Itu juga ada uang si bontot (cucu) yang kita gabungkan. Karena dia kan anak yatim, bapaknya tidak tahu ke mana,” cerita Warni.

Warni kini tinggal di rumah adiknya, di bagian atas Kampung Cigowong yang tak tersentuh banjir. Harapan untuk memiliki rumah kembali juga masih ia simpan. Terutama ketika ada wacana dari pemerintah untuk merelokasi warga ke wilayah yang lebih aman.

“Katanya akan ada relokasi memang dan tanahnya juga sudah diukur di Kampung Tamansari. Tapi kita belum tahu nanti ukuran rumahnya sebesar apa,” jelas Aep, salah seorang RW setempat.

ACT juga hadir beberapa kali sejak Januari lalu untuk memberikan bantuan kepada Warni dan warga lainnya yang juga kehilangan rumah mereka. Mengingat barang-barang mereka juga tidak selamat sama sekali. Pada hari itu, ACT kembali membawa bantuan logistik untuk melipur kesedihan Warni dan warga lainnya.


“Alhamdulillah, senang karena ada yang memerhatikan ibu. Dapat makanan, pakaian, itu alhamdulillah sekali. Karena tidak ada pakaian yang terbawa juga,” ucap Warni. Satu-satunya yang terselamatkan hari itu hanya penanak nasi.

Warni kini menunggu. Ia berharap rumahnya benar-benar tergantikan. Perabotan-perabotannya juga penuh kembali sehingga dia tidak perlu lagi membayangkan lagi perabotannya yang hilang. “Biar nanti kalau anak ibu pulang, dia punya saung (rumah),” harap Warni. [] 


Bagikan