Tidak Melaut, Nelayan Natuna Memanen Cengkih

Musim angin utara membuat para nelayan beralih mata pencaharian, sebagian menjadi petani cengkih, Harga cengkih kering pun dibandrol Rp 50 ribu per kilo gram.

Tidak Melaut, Nelayan Natuna Memanen Cengkih' photo
Nasrun (53) nelayan yang tinggal di Desa Sabang Mawang Barat, Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, sedang menjemur cengkeh yang ia panen dari kebunnya, Ahad (12/1). Pada musim angin utara, Nadrun tidak pergi melaut dan mendapatkan penghasilan dari menjual cengkih kering. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, KABUPATEN NATUNA – Langit cukup mendung, pagi bertopi awan putih di pesisir Natuna. Nasrun (43) tetap menjemur cengkih yang baru saja dipetik dari kebun, Ahad (12/1) pagi itu. Cengkih harus rajin dijemur agar cepat kering. Sebab, harga jual cengkih kering jauh lebih tinggi, yakni Rp50 ribu per kilogram, dibanding cengkih basah yang hanya Rp15 ribu.

Menjual cengkih menjadi penghasilan Nasrun di musim angin utara seperti ini. Ombak besar yang sudah dimulai awal sejak Desember lalu membuat nelayan asal Desa Sabang Mawang Barat, Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna itu tidak pergi melaut sementara waktu. Untuk tetap mendapat penghasilan, ia pun menyiasati musim dengan bertanam cengkih.

“Kalau melaut dibandingkan panen cengkih, sebenarnya penghasilan lebih banyak dapat dari melaut,” aku Nasrun kepada ACTNews. Memanen cengkih memang Nasrun lakukan untuk tetap mendapatkan penghasilan ketika ia tidak mendapat ikan.

Selain buahnya, Nasrun juga menjual batang cengkih kering ke tengkulak. Sangat jauh dari harga buah cengkih, batang cengkih kering dijual Rp5 ribu rupiah per kilogram. Cengkih dan batang cengkih kemudian dijual lagi oleh tengkulak ke pabrik-pabrik untuk dibuat minyak dan kebutuhan lainnya.


Cengkih kering menjadi salah satu komoditas yang dijual nelayan di Kabupaten Natuna saat tidak pergi melaut seperti musim angin utara seperti saat ini. (ACTNews/Gina Mardani)

“Panen cengkih ini punya kebun sendiri. Panennya setahun sekali, ya pas musim ombak besar begini. Jadi tidak melaut, jual cengkih,” kata ayah dua orang anak itu.

Begitu juga Karim (60), warga Desa Selading, Kecamatan Pulau Tiga Barat, Kabupaten Natuna. Ia mengaku, menjual cengkih dan kelapa lebih menguntungkan di musim angin utara ini. sama seperti Nasrun, cengkih kering per kilogramnya dihargai Rp50 ribu. “Dari panen seratus kilo, kalau kering bisa hanya jadi 30 kilo,” ungkap Karim.

Bertepatan dengan musim angin utara dan tidak berangkat melaut, Karim menjual kapal yang ia miliki. Dari hasil bertani cengkih, Karim berencana akan membeli pompong kecil untuk kembali mengail ikan. “Kapalnya dah buruk, tidak bisa dipakai lagi. Hasil cengkih beli lagi. Beli kapal kecil yang harganya tiga juta,” kata Karim.

Angin musim utara biasa dimanfaatkan nelayan untuk rehat. Sebagian beralih profesi menjadi tenaga lepas, bertani cengkih, atau menikmati masa libur melaut. Kehadiran Aksi Cepat Tanggap yang mengantarkan paket pangan pada musim ini pun amat disyukuri warga. “Alhamdulillah ini ada yang antar beras, kami juga tunggu-tunggu dari tadi, terima kasih ACT,” tutup Karim.[]

Bagikan