Tiga Bulan Pascagempa, Warga Maluku Masih Bertahan di Pengungsian

Sejak gempa pertama pada akhir September lalu, hingga hari ini ribuan warga Maluku masih bertahan di pengungsian. Rusaknya rumah dan trauma akan gempa susulan menjadi alasan utama.

Tiga Bulan Pascagempa, Warga Maluku Masih Bertahan di Pengungsian' photo
Berdasarkan data yang dikumpulkan tim Aksi Cepat Tanggap, sampai hari ini masih ada lebih dari 7 ribu jiwa menempati titik-titik pengungsian di Maluku, termasuk Desa Waai. (ACTNews)

ACTNews, MALUKU TENGAH Pekan pertama di Desember 2019 masuk bulan ketiga pascagempa bumi yang mengguncang Maluku. Walau telah berlalu tiga bulan, masih banyak warga yang bertahan di bawah tenda pengungsian. Di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah misalnya. Rusaknya rumah dan trauma akan gempa susulan jadi alasan mereka bertahan di pengungsian.

Berdasarkan data yang dikumpulkan tim Aksi Cepat Tanggap, sampai hari ini masih ada lebih dari 7 ribu jiwa menempati titik-titik pengungsian di Maluku, termasuk Desa Waai. Pengungsian ini umumnya ada di perkebunan atau perbukitan tinggi. Warga mengungsi ke wilayah tinggi untuk menghindari gempa susulan. Tercatat lebih dari 2 ribu gempa susulan terjadi di Maluku hingga awal Desember ini.

Topy Kalae, salah satu pengungsi, mengatakan, ia dan keluarganya terpaksa mengungsi akibat trauma. Sementara rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa M6,5 September lalu. Namun, tinggal di pengungsian selama tiga bulan sangatlah memprihatinkan. “Terpal mulai banyak yang bocor, apalagi sudah mulai musim hujan,” ungkap Topy, Jumat (6/12).

Kepala Cabang ACT Maluku Wahab Loilatu mengatakan, para pengungsi ini sangat rentan terserang berbagai penyakit. Selain cuaca, juga kebersihan lingkungan pengungsian yang tak jarang kumuh. “Warga di sini pun sangat mengharapkan adanya bantuan renovasi rumah karena sebagain besar dari pengungsi merupakan korban yang rumahnya mengalami kerusakan hingga tak bisa ditinggali,” jelas Wahab, Rabu (11/12).

Perlu diketahui, Maluku pada akhir September 2019 lalu diguncang gempa yang cukup besar. Gempa ini menimbulkan kerusakan parah di bangunan-bangunan yang tak kuat menahan goncangan. Akibatnya ribuan orang terpaksa mengungsi akibat rumah rusak dan ribuan gempa susulan yang terjadi pascagempa akhir September.

ACT sendiri sejak hari pertama gempa telah melakukan respons dengan mengirimkan tim evakuasi serta bantuan pangan hingga hari ini. Pendampingan psikososial dan pelayanan medis juga diberikan ke warga-warga yang mengungsi dan mengalami trauma terhadap gempa. []

Bagikan