Tiga Bulan Pascaserangan Israel, Industri di Gaza Masih Lumpuh

Meski sudah tiga bulan berlalu, banyak industri di Gaza yang belum bisa bangkit dari keterpurukan usai serangan Israel Mei lalu. Selain butuh biaya besar, diperlukan waktu bertahun-tahun bagi mereka untuk bisa menjalankan bisnisnya seperti sediakala.

serangan israel ke palestina
Ilustrasi. Masih banyak pelaku industri yang belum bisa bangkit usai bisnisnya hancur pascaserangan Israel. (Reuters/Mohammed Salem)

ACTNews, GAZA – Tiga bulan pascaserangan zionis Israel Mei lalu, masih banyak industri di Gaza yang belum mampu bangkit dari keterpurukan. Banyak industri yang bahkan memutuskan tutup permanen, karena tidak memiliki biaya untuk membangun ulang bisnisnya.Imbasnya bukan hanya kepada pemilik bisnis. Namun juga kepada para pekerja yang terpaksa dirumahkan.

Naim al-Seksek menjadi salah satu pengusaha yang bisnisnya lumpuh karena serangan Israel.  Ia menjalankan sebuah pabrik plastik di Kawasan Industri Gaza, di mana wilayah tersebut dikiranya merupakan salah satu tempat teraman di Gaza untuk menjalankan bisnis. Namun, ternyata pada 20 Mei, serangan artileri milik Israel menghancurkan pabriknya.

“Ketika artileri Israel mulai menargetkan Zona Industri Gaza, ada empat penjaga pabrik yang melihat api menyebar di pabrik. Mereka mencoba menghentikannya tetapi tidak bisa. Kami tidak pernah mengira wilayah industri menjadi sasaran, karena seharusnya ini menjadi wilayah yang dilindungi,” kata Naim.

Lebih lanjut, Naim menyebut semua sebagian besar mesin pabrik telah hancur total. Diperkirakan kerugiannya mencapai $1,2 juta atau sekitar Rp17 miliar. Namun, meskipun kerugian tersebut bisa diganti, Naim memperkirakan butuh minimal dua tahun untuk pabriknya bisa beroperasi secara normal kembali.

Musibah ini juga membuat Naim keuslitan membayar upah karyawannya. Ia pun terpaksa merumahkan 60 persen karyawannya. “Dulu, sekitar 100 orang bekerja di sini, sekarang kami hanya memiliki 40 pekerja, dan itu pun  bekerja paruh waktu,” jelasnya.

Bukan hanya Naim Al-Seksek, pabrik di Zona Industri Gaza milik pengusaha lain juga banyak yang hancur karena serangan Israel. Ahmed Harb, pengusaha kain nilon di Gaza, harus rela pabriknya dilalap api usai Israel menembaki pabriknya yang memicu kebakaran hebat.

“Saya telah kehilangan segalanya. Kami tidak akan dapat beroperasi lagi. Kami membutuhkan ratusan ribu dolar untuk membangun kembali apa yang telah hancur. Tujuh belas pekerja dulu bekerja di pabrik ini, semuanya bergantung pada pekerjaan mereka di sini untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga mereka. Mereka semua sekarang menganggur,” ujar Harb.

Selama serangan 11 hari di bulan Mei, Israel meluncurkan sekitar 2.750 serangan udara dan 2.300 peluru artileri di Gaza, dan merenggut sedikitnya 260 nyawa warga Palestina. Komite Pemerintah Tinggi untuk Rekonstruksi Gaza menyatakan, 33 persen kerusakan terjadi di sektor pembangunan ekonomi, 61 persen di sektor perumahan dan infrastruktur, dan tujuh persen di sektor pembangunan sosial.

Sementara menurut Kementerian Ekonomi Palestina di Gaza, sekitar 1.500 perusahaan ekonomi hancur atau rusak selama serangan tersebut. Diperkirakan, total kerugian setidaknya mencapai $479 juta.[]