Tim Medis ACT Antisipasi Penyakit di Posko Pengungsian Sentani

Berdasarkan laporan Tim Medis ACT, semakin lama warga menghuni pengungsian, maka kemungkinan besar banyak penyakit yang harus diantisipasi. Biasanya penyakit-penyakit tertentu dapat muncul dengan mudah di pengungsian, seperti yang ada di Sentani.

Tim Medis ACT Antisipasi Penyakit di Posko Pengungsian Sentani' photo
Tim Medis ACT sedang mengecek kondisi warga Wamena yang ada di pengungsian. (ACTNews/Wahyu Ramdhan Wijanarko)

ACTNews, JAYAPURA - Di posko yang dikelola oleh Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM), Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan layanan kesehatan bagi para pengungsi Wamena yang berada di Sentani, Kota Jayapura. Tim Medis ACT melayani sekitar 300 pengungsi, mayoritas anak-anak, yang sedang berada di posko.

“Di sini banyak anak dan biasanya memang penyakit yang kita temukan adalah tubuh mereka gampang panas. Penyakit panas ini memang menular. Biasanya ketika anak yang lain kondisinya sedang drop, itu gampang menularkan panas,” kata Wahyu Novyan selaku Direktur Social Network Corporation (SNC)-ACT, Senin (30/9).

Berdasarkan laporan Tim Medis ACT, semakin lama warga menghuni pengungsian, maka kemungkinan besar banyak penyakit yang harus diantisipasi. Biasanya penyakit-penyakit tertentu dapat muncul dengan mudah di pengungsian, seperti yang ada di Sentani.

“Kalau terlalu lama di pengungsian, akan timbul penyakit-penyakit yang memang sering di pengungsian. Ya panas, ya ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), ya diare. Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang ada di sini segera dapat kembali ke kampung halamannya masing-masing karena itu yang mereka inginkan saat ini,” kata Wahyu, meneruskan laporan Tim Medis ACT.


Tim Medis ACT memberikan penyuluhan kesehatan kepada warga di posko IKM. (ACTNews/Wahyu Ramdhan Wijanarko)

Hendra, salah satu pengurus IKM, menceritakan, komunitasnya memberikan tempat perlindungan sementara bagi warga yang evakuasi dari Wamena. Sejak Rabu (25/9) lalu, warga Wamena telah berdatangan ke posko IKM yang ada di Sentani.

“Jadi warga kita di Wamena sana ada sekitar 3.000 orang. Kalau sekarang sudah turun ke posko ini sekitar lebih dari 300 orang. Kita berkewajiban untuk membantu saudara-saudara kita, apalagi yang dalam keadaan darurat, untuk mengungsi di sini,” kata Hera.

Hendra mengatakan, para pengungsi yang mayoritas pedagang ini membutuhkan bantuan, terutama pakaian layak pakai. Hal ini karena ketika ruko mereka terbakar saat konflik berkecamuk, mereka tak sempat menyelamatkan apapun kecuali baju di badan mereka.

Rifa, warga Wamena yang baru mengungsi pada Senin pagi tadi, juga mengatakan demikian. Ia hanya bisa menyelamatkan diri dan keluarganya yang ketika konflik berkecamuk. Sementara itu, barang-barangnya sudah terbakar ketika konflik tersebut terjadi.

“Kalau perasaan kami sekarang tidak karuan, trauma juga karena kami punya barang semua sudah dibakar. Jadi cuma diri sendiri yang diselamatkan dengan anak-anak. Kalau di sini keadaan begini padatnya, dan keadaan kami juga seadanya di sini,” ujar Rifa. Rifa tak punya harapan lain lagi, ia hanya ingin bisa pulang ke kampung halamannya di Sumbar.

Selain Rifa, cukup banyak juga warga Sumbar yang ada di Wamena. Tribun Padang,  menyatakan, ada sekitar 900 lebih perantau asal Sumbar yang kini tinggal di Wamena. Pemerintah Sumatra Barat kini sedang berusaha mencari cara untuk memulangkan para perantau ini kembali ke kampung halamannya. []

Bagikan

Terpopuler