Tim Medis ACT Terus Dampingi Penyintas Bencana NTT

Pascabencana NTT, para penyintas masih membutuhkan bantuan. Selain pasokan pangan, kebutuhan kesehatan pun mendesak. Pasalnya, tak sedikit korban luka tak mendapatkan perawatan yang memadai.

Tim Humanity Medical Services-ACT saat memeriksa salah satu penyintas anak di lokasi bencana banjir bandang NTT. (ACTNews)

ACTNews, FLORES TIMUR – Banjir bandang dan badai yang menerjang beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada Ahad (04/04/2021) lalu banyak menimbulkan korban. Berdasar data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 11 April, korban meninggal akibat bencana ini telah mencapai 177 jiwa.

Tidak hanya korban jiwa, terdapat pula korban luka dan terserang penyakit imbas bencana ini. Menanggapi hal tersebut, tim Humanity Medical Services-ACT pada Sabtu (10/04/2021) melakukan ke pemeriksaan kesehatan kepada para korban.

Pemeriksaan dilakukan dengan dua metode, yang pertama dilakukan di posko kesehatan yang didirikan Aksi Cepat Tanggap di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur. Sedangkan cara kedua dengan mengunjungi langsung rumah korban yang tak sanggup untuk datang langsung ke pusat kesehatan.

“Kunjungan langsung dilakukan karena beberapa faktor, seperti jarak antara rumah korban ke posko yang cukup jauh, beberapa korban telah lanjut usia, dan penyakit yang diderita cukup parah, sehingga tidak memungkinkan bagi korban untuk datang langsung ke posko pelayanan,” jelas Melza dari tim HMS-ACT, Senin (12/4/2021).

Dari hasil pemeriksaan tim HMS-ACT, banyak penyintas yang mengalami demam, gatal-gatal, gangguan pernapasan, hingga luka sayatan akibat tekena material banjir. Beberapa penyintas yang mengalami luka juga terpantau mengeluarkan nanah dari lukanya  karena tidak mampu merawat luka tersebut.

Selain pelayanan medis, tim HMS-ACT sebelumnya juga telah melakukan asesmen terkait kebutuhan medis para penyintas. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pendistribusian bantuan dan pelayanan yang akan diberikan sesuai kebutuhan penyintas di tiap-tiap wilayah.

“Di lokasi bencana NTT, kebutuhan medis hingga kini sangat mendesak. Selain memberikan pelayanan medis, perlu juga edukasi ke masyarakat untuk menerapkan hidup sehat pascabencana, termasuk di lokasi pengungsian,” tambah Melza.

Untuk diketahui, menurut BNPB, banjir bandang yang melanda NTT ini merupakan bencana alam yang mempunyai dampak paling besar dalam 10 tahun terakhir di provinsi tersebut. Selain merenggut banyak nyawan dan merusak alam, bencana ini juga menyebabkan ribuan rumah warga rusak. Akibatnya, puluhan ribu jiwa terdampak dan terpaksa mengungsi di berbagai titik.[]