Tim Medis ACT Turun Tangan Respons Banjir Somalia

Tim Medis ACT Turun Tangan Respons Banjir Somalia

ACTNews, BELEDWEYNE, Somalia – Hujan dan badai di Somalia, sejak awal April 2018 menjadi momok menakutkan. Tak seperti April 2017 setahun lalu, kala Somalia didera kekeringan menahun, justru di April hingga Mei 2018 ini puncak musim basah memicu banjir bandang, banjir terjadi nyaris di seluruh provinsi di Somalia.

Kabar buruknya lagi, banjir bandang menerjang wilayah-wilayah kumuh yang dihuni ratusan ribu pengungsi internal (internally displaced person’s). Di wilayah Baidoa misalnya, lokasi implementasi Global Qurban setahun lalu ini termasuk satu dari puluhan wilayah di Somalia yang porak-poranda karena banjir bandang.

Mitra ACT di Somalia mengabarkan, sekira setengah dari 246.000 jumlah populasi pengungsi internal di Baidoa, terpapar bencana banjir bandang sejak April hingga Mei 2018. Banjir merendam dan menghancurkan ribuan tenda-tenda yang menjadi rumah satu-satunya para pengungsi. Tenda-tenda itu terbuat dari terpal bekas nan tipis dan ranting-ranting pohon sebagai kerangkanya. Sekali tenggelam karena banjir, tenda-tenda itu ambruk.

Tak hanya di Baidoa yang termasuk dalam wilayah Provinsi Bay, banjir juga membuat krisis kemanusiaan baru di Provinsi Banadir, Hirshabelle, South West, Galmudug, Jubaland, sampai Sool. Kabar dari Safiya, kondisi banjir terburuk terjadi di Hirshabelle.

“Data yang dihimpun tim ACT di Somalia, di Hirshabelle lebih dari 305.828 jiwa warga terdampak banjir. Dari jumlah itu, 145.852 warga menjadi pengungsi baru, rumah atau tenda pengungsiannya hancur karena banjir,” ujar Safiya Sukri koordinator relawan ACT di Somalia.

Tim Medis ACT ke Beledweyne

Dari Ibukota Mogadishu, belasan relawan ACT dengan spesifikasi tenaga medis dan Kesehatan Masyarakat berangkat menuju Provinsi Hirshabelle. Tim ACT didampingi oleh mitra yang terdiri dari anak-anak muda Somalia, tergabung dalam komunitas Somali Youth Volunteers for Develpoment Association (SOYVDA).

 

Safiya menjelaskan, ancaman krisis paling jelas datang dari risiko penyakit menular dan mematikan, seperti kolera misalnya. Hujan deras, banjir, dan air kotor yang tergenang makin memperburuk kondisi di ratusan ribu kamp-kamp pengungsian seantero Somalia.

“Kalau sanitasi tak terjaga, genangan air banjir membuat bakteri kolera cepat merebak. Buang air besar pun tidak pada tempatnya. Akhirnya bakteri kolera menular ke air minum atau makanan yang dikonsumsi para pengungsi. Kolera memicu diare parah sampai berujung kematian.

Satu wilayah yang dituju di Hirshabelle adalah Distrik Beledweyne, persis di tepian sungai besar Shebelle yang memisahkan wilayah ini menjadi Beledweyne Timur dan Barat. Safiya mengatakan, di Distrik Beledweyne jumlah terdampak banjir bandang mencapai 214.000 jiwa.

“Hari itu Rabu (15/5) Tim Medis ACT berangkat menuju Beledweyne. Kami bertemu dengan wali kota Beledweyne dan mendapatkan izin untuk langsung melakukan aksi medis, karena puluhan ribu warga di Beledweyne membutuhkan bantuan medis segera. Kami juga mendapat izin untuk tinggal di tengah-tengah kamp pengungsian,” kisah Safiya.

Aksi berlanjut, Tim Medis ACT menetapkan tempat aksi di Eel Jaale, sebuah lokasi pengungsian tak jauh dari tengah kota Beledweyne. “Banjir sudah mulai surut di Eel Jaale, tapi banjir bisa saja datang lagi. Prediksi cuaca masih buruk. Kalau sungai Shebelle meluap, kamp pengungsian ini banjir lagi,”

Sabtu (19/5) atau hari ke-tiga Ramadan lalu, aksi medis dengan mobile clinic mulai berjalan di tengah-tengah kamp pengungsian.

“Hampir 400 pasien datang untuk berobat di hari pertama kami beraksi. Dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore terbagi atas 3 bagian tim medis. Meliputi dokter untuk anak-anak, dokter untuk dewasa, dan dokter untuk ibu hamil dan menyusui,” tutur Safiya.

Bahkan, Safiya melanjutkan kisahnya, antusias masyarakat korban banjir ini sangat besar. “Hingga selesai pelayanan kesehatan pun masih ada yang datang singgah ke rumah tempat tim kami menginap. Sehabis berbuka puasa jam 8 malam kami melanjutkan aksi medis di rumah,” ujarnya,

Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT merangkum, selama 4 hari Tim Medis ACT beraksi, ribuan pengungsi mendapat bantuan medis.

“Totalnya kurang lebih ada 1.500 pasien yang dilayani Tim Medis ACT di Somalia. Bantuan medis, obat gratis juga kelambu nyamuk (mosquito net shelter, -red) untuk ratusan keluarga pengungsi,” papar Faradiba. []

Tag

Belum ada tag sama sekali