Tinggal di Rumah Reot, Enung Berjuang Demi Empat Anaknya

Enung bersama keempat anaknya tinggal di rumah reot berukuran 2,5x2 meter. Saat hujan, mereka harus mengungsi karena rumah bocor dan tak bisa ditinggali.

renovasi rumah enung
Enung bersama kedua anaknya saat duduk di depan rumah. Tampak rumah Enung berdinding bilik berukuran 2,5x2 meter. (ACTNews/Rimayanti)

ACTNews, TASIKMALAYA – Sejak pagi pukul 07.00 WIB Enung Nurhayati (40) warga Leuwibudah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya sibuk menyalakan api dalam tungku yang berada di samping rumah. Sambil menggendong putri bungsunya, Enung bersiap memasak air dan bumbu kacang untuk pelengkap dagangannya. 

Enung masih menggunakan tempat memasak tradisional. Ia harus terus memperhatikan tungku, memastikan api tetap menyala. “Kalau (api) mati, repot. Harus tiup dan asapnya buat mata perih,” kata Enung, Jumat (25/2/2022).

Usai air dan bumbu matang, Enung masuk ke dalam rumah menyiapkan barang dagangan lalu memasukkannya ke dalam plastik. Enung berjualan sosis, otak-otak, nugget, dan es setiap hari. Ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan Enung dalam menghidupi keempat orang anaknya. 

Suami Enung meninggal delapan bulan lalu. Sebelum meninggal, sang suami sakit stroke selama empat tahun. Selama itu pula Enung merawat dan menggantikan peran suami sebagai tulang punggung keluarga. “Alhamdulillah cukup untuk makan sehari-hari. Sekitar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu untungnya sehari,” ujar Enung. 

Enung tinggal di rumah panggung reot berukuran 2,5x2 meter. Dinding rumah terbuat dari bilik yang sudah rapuh. Agar tidak ambruk, sisi kiri rumah diberi penyangga bambu. Atap rumah sebagian menggunakan asbes dan sebagian genting yang sudah pada bocor. 

“Kalau hujan sudah tidak bisa ditinggali karena bocor di setiap sisi. Kita mengungsi ke rumah tetangga terdekat sampai hujan reda,” jelasnya.


Enung saat sedang memasak menggunakan tungku tradisional di samping rumahnya. (ACTNews)

Rumah Enung tidak dilengkapi sarana sanitasi yang layak. Enung membuat bilik kecil yang ditutup terpal untuk mandi dan bersih-bersih, . Air ia minta dari sumur tetangga. 

Sementara itu, rumah Enung juga tidak dilengkapi perabotan rumah tangga atau barang elektronik. Hanya ada keranjang tempat baju, kasur lantai, dan bantal untuk keperluan tidur di dalamnya lalu alat-alat masak digantungkan di luar. 

Fauzi Ridwan dari tim ACT Tasikmalaya mengatakan, bagi orang yang tidak tahu, lalu lewat di depan rumah Enung, sekilas akan menganggap rumah tersebut seperti kandang. Padahal, itu adalah rumah yang ditempati Enung bersama 4 anaknya. 

“Kami berikhtiar untuk membantu merenovasi rumah Enung sehingga lebih baik, layak, dan nyaman untuk ditempati. Sahabat Dermawan bisa ikut mendukung melalui IndonesiaDermawan,” jelasnya.[]