Tingginya Angka Kematian Anak dan Wanita di Yaman

Sudah lebih dari 50.000 jiwa yang meninggal dunia dalam konflik Yaman.

Tingginya Angka Kematian Anak dan Wanita di Yaman' photo

ACTNews, HAJJAH, SANA’A - Selama konflik masih berlangsung, derita anak-anak dan wanita di Yaman masih akan terdengar oleh masyarakat dunia. Ahad (17/6) kemarin, situs berita Middle East Monitor (MEMO) mengabarkan, tiga anak dan satu wanita meninggal dunia akibat serangan udara yang terjadi di Distrik Abes, Provinsi Hajjah, Yaman.


Yaman yang identik sebagai negara miskin di dunia sudah masuk dalam kondisi konflik sejak 2014. Menurut para pejabat PBB, sudah lebih dari 50.000 jiwa yang meninggal dunia dalam konflik Yaman. Sementara lebih dari 11 persen penduduk Yaman telah mengungsi, masih di dalam Yaman, tetapi ke daerah yang dirasa lebih aman.


Tak hanya menjadi korban akibat serangan langsung, anak-anak dan wanita juga turut terkena dampak akibat fasilitas kesehatan tidak lagi memadai di Yaman, termasuk saat perawatan kehamilan dan persalinan. Padahal, akses mendapat layanan yang berkualitas adalah kunci untuk kelangsungan hidup seorang ibu dan bayinya yang baru lahir.


UNICEF mencatat, tingkat kematian wanita meningkat sejak eskalasi konflik terjadi, yakni lima kematian per hari pada 2013 menjadi 12 kematian per hari pada 2018. “Perawatan antenatal dan petugas kesehatan yang terlatih saat persalinan sangat penting untuk kelangsungan hidup dan bayi,” jelas Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF.


Melansir rilis Badan PBB untuk Urusan Anak (UNICEF), melahirkan kehidupan baru di Yaman seringkali menjadi tragedi bagi seluruh keluarga. Belum lama ini, Jumat (14/6), UNICEF menyatakan setiap dua jam sekali ada satu wanita dan enam anak yang baru lahir di Yaman, meninggal dunia akibat komplikasi selama kehamilan dan atau persalinan.


“Dekade keterbelakangan dan pertempuran sengit berkepanjangan telah melumpuhkan layanan publik yang penting, termasuk perawatan kesehatan bagi ibu dan bayi. Hampir semuanya berada di ambang kehancuran,” kata Henrietta Fore.


Kata Fore, setengah dari semua fasilitas kesehatan di Yaman juga tidak berfungsi karena mengalami kekurangan staf medis. Juga karena ketidakmampuan Yaman untuk memenuhi biaya operasional, sedang alat medis dan obat-obatan harus terus tersedia.


Dengan tidak adanya layanan yang memadai, kurangnya akses ,serta biaya yang terlalu tinggi, membuat rumah sakit menjadi “pilihan terakhir” bagi perempuan dan anak di Yaman. Utamanya bagi mereka yang tinggal atau mengungsi di daerah terpencil, pedesaan, dan daerah yang terkena perang. []



Sumber foto: UNICEF

Bagikan