Tingkat Pengangguran di Gaza Melonjak Akibat Blokade dan Pandemi

Tingkat pengangguran di Gaza melonjak ke angka 82 persen akibat pembatasan aktivitas sebagai upaya untuk meredam wabah Covid-19. Selain itu, belasan tahun blokade serta operasi militer yang telah terjadi beberapa kali menghambat pertumbuhan ekonomi di wilayah seluas 365 kilometer persegi itu.

kemiskinan gaza
Seorang gadis Palestina di depan rumahnya di pemukiman prasejahtera di Al-Zaitun, Kota Gaza (Ezz Zanoun/Apaimages)

ACTNews, GAZA Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Palestina di Gaza untuk menghambat penyebaran virus Covid-19 memiliki dampak ekonomi yang cukup serius. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah angka pengangguran di Jalur Gaza sejak pandemi virus corona menyebar di Jalur Gaza.

Sami Al-Amsi, Kepala Federasi Umum Serikat Dagang di Jalur Gaza menjelaskan, tingkat pengangguran di Jalur Gaza yang hingga kini masih diblokade Israel meningkat sebesar 17%, dan kini 82% dari total populasi di  Gaza tidak memiliki pekerjaan, sebagaimana dilaporkan Middle East Monitor pada November 2020.

Menurut rilis resmi dari Federasi Umum Serikat Dagang di Jalur Gaza, pandemi corona telah berdampak langsung maupun tidak langsung kepada lebih dari 160.000 pekerja akibat banyak perusahaan yang terpaksa merumahkan banyak karyawannya.

“Sektor transportasi umum telah lumpuh total. Ada sekitar 15.000 hingga 20.000 orang yang bekerja di sektor tersebut. Sektor konstruksi yang mempekerjakan sekitar 40.000 orang juga telah berhenti beroperasi. Sementara itu, dari sekitar 21.000 orang yang bekerja di sektor industri, hanya 8.000 orang yang dapat kembali bekerja. Selain itu, lebih dari 4.000 nelayan juga seringkali menjadi korban serangan Israel,” papar Al-Amsi.

Dia menambahkan, banyak para pekerja yang harus bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang setiap harinya hanya untuk menerima upah rendah. Jam kerja berkisar antara sepuluh hingga tiga belas jam setiap harinya dengan upah harian yang berkisar antara 15 hingga 35 shekel (Rp64.000 hingga 149.500) dalam kondisi yang terbaik.

Tingginya angka pengangguran di Jalur Gaza mengakibatkan banyaknya keluarga prasejahtera yang kehilangan sumber-sumber mata pencaharian mereka. Aksi Cepat Tanggap (ACT) mencatat beberapa keluarga di Jalur Gaza yang tidak lagi memiliki mata pencaharian, salah satunya adalah keluarga Bassam Sulaiman Salmi Eid yang tinggal di wilayah prasejahtera di Al-Zawaida, Gaza.


Potret keluarga Bassam Sulaiman Salmi Eid. (ACTNews)

“Kondisi perekonomian keluarga ini sangat buruk. Sang kepala keluarga yang menyandang gelar Sarjana tidak mendapatkan kesempatan kerja di Gaza akibat krisis, padahal anak-anaknya masih berusia sekolah. Keluarga ini sangat membutuhkan persediaan makanan dan kebutuhan sehari-hari,” papar mitra ACT di Gaza, Selasa (12/1/2021)

Kondisi serba kekurangan yang dihadapi keluarga dengan delapan anggota ini mengakibatkan mereka hidup dalam kondisi sosial dan psikologis yang tidak stabil.

Merespons krisis kemanusiaan di Jalur Gaza, ACT berikhtiar meringankan beban warga Palestina melalui program Sister Family Palestine-Indonesia. Sister Family Palestine-Indonesia hadir sebagai jawaban dari permasalahan sosial di Palestina sekaligus mempersaudarakan dermawan di Indonesia dengan keluarga-keluarga yang membutuhkan bantuan di Palestina.

Melalui program Sister Family Palestine-Indonesia, masyarakat Indonesia dapat berkomitmen untuk memberikan bantuan tiap bulan untuk warga Palestina agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sedekah yang diamanatkan oleh Sahabat Dermawan tiap bulannya akan digunakan untuk membeli makanan, pakaian, kebutuhan sanitasi, perlengkapan dan biaya pendidikan, serta untuk membayar biaya sewa rumah. []