Toktok, Kendaraan Multifungsi Masyarakat Gaza

Siapa sangka? Kendaraan yang satu ini amat diminati masyarakat Gaza: toktok. Motor gerobak ini menjelma jadi kendaran multifungsi, mulai dari angkutan umum hingga kios berjalan.

Toktok atau motor gerobak jadi salah satu kendaraan distribusi bantuan yang digunakan mitra ACT di Gaza. (ACTNews)
Toktok atau motor gerobak jadi salah satu kendaraan distribusi bantuan yang digunakan mitra ACT di Gaza. (ACTNews)

ACTNews, GAZA Jika di Indonesia motor gerobak identik sebagai kendaraan pengantar galon dan gas, di Gaza, fungsi kendaraan ini juga tidak jauh berbeda. Toktok, begitu masyarakat Gaza menyebut kendaraan roda tiga dengan body terbuka ini. Toktok menjadi kendaraan angkut yang sudah melekat di masyarakat Gaza. Kendaraan ini  memenuhi jalan-jalan dan menyediakan jasa serba bisa.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response-Aksi Cepat Tanggap menjelaskan, selepas salat subuh, para pengemudi Toktok telah memenuhi jalanan. Mereka siap menawarkan jasa angkut pedagang dan pembeli ke pasar, mengantar anak sekolah, atau membuka kios dagangannya sendiri.

"Lepas pukul delapan pagi, toktok menjadi moda antar jemput anak-anak ke sekolah, atau mengantar mereka yang ingin beraktivitas dan meramaikan jalan-jalan jalur Gaza," kata Said.

Anak-anak sekolah saling menyapa ketika berpapasan dengan teman-temannya di Toktok yang lain jadi pemandangan yang biasa di pagi hari. Sementara di siang hari, para pedagang berjualan minuman dingin, jajanan, hingga mainan di pantai Gaza, pesisir laut Mediterania, dengan toktok mereka. 

"Bagi masyarakat Gaza, toktok jadi kendaraan multifungsi dan mudah dioperasikan, Toktok banyak diminati mereka yang ingin membuka usahanya sendiri. Realitas ini membuat ACT bersama Global Wakaf menginisiasi program berbasis wakaf modal usaha berupa Toktok untuk masyarakat Gaza," lanjut Said.

Dengan program Wakaf Motor Gerobak, Said berharap, masyarakat Indonesia dapat membantu menciptakan kesempatan bagi masyarakat Gaza yang memiliki kemampuan berwirausaha.


Mervat Alhway, salah satu warga prasejahtera di kawasan Deir Al Balah, Gaza. Tidak adanya lapangan pekerjaan membuat sebagian besar keluarga Gaza tidak punya jalan keluar dari kemiskinan. (ACTNews)

Tidak ada lapangan kerja

Berdasarkan Biro Statistik Palestina, tingkat pengangguran masyarakat di Gaza rata-rata 45,1 persen pada tahun 2019 secara keseluruhan. Tidak adanya lapangan pekerjaan membuat sebagian besar keluarga Gaza tidak punya jalan keluar dari kemiskinan. Fakta tersebut berbanding terbalik dengan kualitas pendidikan dan keahlian warga Gaza yang baik.

"Warga Palestina amat mencintai dan memperjuangkan pendidikan, meskipun dalam kondisi serba terbatas akibat konflik. Namun, kualifikasi, skill, dan pengalaman tidak cukup untuk menjamin masa depan tanpa adanya kesempatan. Sempitnya lapangan pekerjaan membuat masyarakat usia produktif di Palestina kebingungan untuk menjadi mandiri dan berdaya walau ijazah sekolah, kursus, dan pelatihan lengkap dikantonginya," jelas Said.

Said melanjutkan, salah satu upaya membantu perekonomian masyarakat Gaza adalah membuka lapangan usaha. Tahap awal bantuan dilakukan dengan memberikan bantuan modal usaha berupa gerobak motor.

"Mari wujudkan keluarga Gaza yang mandiri. Selain berdoa, kita pun berikhtiar kembali membangkitkan kehidupan masyarakat Gaza," pungkas Said.[]