Tradisi Roah: Wujud Syukur Warga Lombok Utara

Tradisi makan bersama yang tujuannya untuk bersyukur ini bahkan sempat mereka lakukan tahun lalu ketika berada di tengah-tengah tenda pengungsian.

Tradisi Roah: Wujud Syukur Warga Lombok Utara' photo

ACTNews, LOMBOK - Aco duduk di antara 85 dulang, atau nampan yang berisi makanan. Laki-laki itu yang mengatur remaja-remaja tanggung, yang bolak-balik membawakan dulang ke Masjid Nur Solihin yang ada di dekat pintu masuk Integrated Community Shelter (ICS) yang terletak di Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara tersebut.

"Kemarin ibu-ibu ini masak dagingnya sekitar jam 3 pagi. Masaknya di rumah masing-masing warga lalu mereka bawa ke sini. Pagi hari, baru mereka datang ke tempat ini dan kita kumpulkan dulangnya," cerita Aco ketika ditanya bagaimana daging kurban yang didistribusikan oleh Global Qurban-ACT dan Kajian Musawarah itu diolah pada Senin (12/8) lalu.

Global Qurban-ACT dan Kajian Musawarah berkolaborasi dalam mengajak para dermawan untuk ikut berkurban melalui program Musawarah Berqurban. Dari program tersebut, terkumpul 58 sapi kurban yang didistribusikan ke banyak titik di Indonesia, salah satunya Lombok. Warga ICS di Desa Gondang pun ikut mendapat daging-daging kurban itu.

"Alhamdulillah ada Global Qurban-ACT yang mendistribusikan daging ini ke ICS sehingga kami bisa ikut merayakan Iduladha tahun ini lewat Syukuran Qurban. Memang syukuran ini sudah merupakan tradisi setiap hari raya. Kalau di Lombok, nama lain Syukuran Qurban ini disebutnya Roah," kata Aco yang juga merupakan warga ICS sejak satu tahun lalu.




Aco mencontohkan pada hari Maulid Nabi, malam Idulfitri dan hari ke delapannya, serta malam Isra Miraj, malamnya warga akan memasak banyak makanan dalam satu dulang di malam harinya untuk Roah. Sebelum dulang-dulang dihidangkan, biasanya akan ada tausyiah dan doa bersama seperti yang terjadi di ICS hari itu. Satu dulang bervariasi. Bisa dimakan oleh dua hingga enam orang. Namun dulang yang digunakan pada hari itu, kata Aco bisa menampung hingga enam orang.

Tujuan dari Roah tidak lain sebagai salah satu wujud untuk mensyukuri hari-hari raya yang datang. Dalam kebersamaan, warga akan berkumpul sembari menjalin silaturahmi dan mengingat bahwa mereka masih diberikan kesempatan untuk melewati hari raya ini sekali lagi bersama-sama. Kebiasaan tersebut kata Aco tidak pernah terlewat, bahkan ketika gempa besar mengguncang mereka tahun lalu.

"Tahun 2018 itu kan gempanya berdekatan dengan Iduladha juga, ya kita tetap mengadakan Roah. Meskipun pada waktu itu lokasinya memang di pengungsian, dan kita juga masih trauma akan ada susulan. Tapi tetap kita adakan di sini. Awal-awal gempa tempat ini kan masih tenda-tenda, belum dibangun ICS. Ya, sudah di tengah tenda-tenda itu saja kita makan bersama," kenang Aco.

Hari itu warga Lombok kembali bersyukur mereka masih bisa diberikan kesempatan untuk menjalani hari raya bersama. Lebih lagi kali ini Global Qurban-ACT dan Kajian Musawarah, yang terdiri dari para selebritis ibu kota, ada untuk membersamai mereka. Mereka hadir membagikan kebahagiaan agar mereka cepat pulih kembali dari bencana. Dulang-dulang siap di masjid. Macam-macam penganan dari daging sapi tersedia di depan mereka. Warga makan bersama.


Di tengah riuh ramai orang-orang yang tengah bersantap dan beberapa ibu-ibu yang antusias menyapa para selebritis, beberapa orang membawa kantong plastik. Plastik itu menyebar ke masing-masing orang yang makan. Tidak terkecuali Aco yang saat itu memberikan plastik di tangannya.

"Tradisinya memang begitu kalau Roah di Lombok. Kalau tidak habis wajib dibungkus dan dibawa pulang. Biar tidak mubazir dan bisa dimakan orang-orang di rumah," ujarnya seolah mengajarkan cara bersyukur. []

Bagikan