Tragis, Palestina Capai Titik Puncak Krisis Fiskal

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan situasi krisis fiskal di Palestina telah mencapai titik puncak. Palestina akan mengalami defisit anggaran pada 2021 sekitar USD800 juta atau setara dengan Rp11,38 triliun.

Tragis, Palestina Capai Titik Puncak Krisis Fiskal
Ilustrasi. Penjajahan Israel berdampak pada krisis anggaran Palestina. (Reuters)

ACTNews, PALESTINA – Kepungan zionis Israel berdampak terhadap situasi fiskal Palestina. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan, situasi krisis fiskal di Palestina telah mencapai titik puncak.

Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Tor Wennesland, mengungkapkan, Palestina akan mengalami defisit anggaran pada 2021 sekitar USD800 juta atau setara dengan Rp11,38 triliun (kurs Rp14.230).

"Pengeluaran (Palestina) jauh melebihi pendapatan dan kesenjangan semakin besar. Dukungan donor, termasuk dukungan anggaran langsung, terus menurun selama bertahun-tahun," kata Wennesland dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang situasi Timur Tengah, Selasa (19/10/2021).

Wennesland menjelaskan, krisis fiskal Palestina tahun ini akan memperluas kesenjangan yang sudah terjadi pada 2020. Selain itu, kapasitas pinjaman Palestina dengan bank telah melewati batas. Menurutnya, ini dikarenakan Israel terus memotong jutaan dolar AS per bulan dari transfer pendapatan izin.

Wennsland menyatakan, keprihatinan kondisi krisis fiskal ini terjadi secara bersamaan di Tepi Barat dan Gaza. Hal ini menurutnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Apalagi krisis fiskal ini belum pernah terjadi sebelumnya. “Kita harus mendorong perlunya reformasi signifikan dan perubahan kebijakan baik oleh Israel maupun Palestina,” tambahnya.[]