Tumbangkan Krisis Air Gaza dengan Dua Sumur Wakaf Baru

Sumur Wakaf ke-29 dan ke-30 telah menyelesaikan pembangunannya di Gaza. Ini merupakan upaya untuk menyelasaikan krisis air yang telah lama diderita warga Gaza. Terutama pascaserangan Israel pada Mei lalu, yang merusak layanan air bersih dan memengaruhi tiga pabrik desalinasi utama di Gaza

sumur wakaf palestina
Ilustrasi. Anak-anak Gaza sangat senang bisa menikmati air bersih gratis dari Sumur Wakaf. (ACTNew)

ACTNews, GAZA – Dua Sumur Wakaf kembali hadir di Gaza. Dua sumur pemberian wakif dari Indonesia tersebut, di bangun di dua lokasi berbeda, yakni di Al Twam area, Jabalia, Gaza Utara dan di wilayah Al Nusairat, Area tengah. Kedua sumur tersebut merupakan sumur ke-29 dan ke-30 yang dibangun untuk warga Palestina di Gaza.

Dibangun menggunakan pipa 12 inci dengan kedalaman minimal 50 meter, sumur ini mempu menghasilkan hingga 10 ribu liter air per jamnya. Warga Gaza pun tidak perlu khawatir terhadap kebersihan air dari sumur ini. Sebab, air dari sumur tersebut akan disuplai ke tangki air dan melewati sistem penyaringan sehingga air yang dihasilkan menjadi bersih dan layak dikonsumsi.

“Permasalahan kebersihan air memang menjadi kerisauan tersendiri warga Gaza. Jika pun mereka mampu membangun sumur sendiri, maka yang keluar tetap air tanah yang kemasaman. Diperlukan alat penyaring air agar air yang tercemar tersebut bisa berubah menjadi air yang jernih,” jelas Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR), Jumat (16/7/2021).

Tidak hanya sekadar untuk konsumsi. Firdaus menjelaskan, banyak sumur yang dibangun bersebelah dengan masjid di Gaza. Sehingga, sumur-sumur tersebut mampu menjadi sarana umat muslim di sana untuk beribah. Keran-keran air yang turut dibuat, mampu mengalirkan air yang bisa digunakan untuk menghilangkan najis dan kotoran dari para jemaah saat berwudu.

“Insyaallah, pahala yang didapatkan oleh para pewakif adalah amal jariyah. Sebab, sumur yang mereka wakafkan terus digunakan oleh umat muslim di Gaza untuk beribadah. Sehingga pahala akan terus mengalir meskipun pewakif nanti telah wafat,” tutur Firdaus.

Untuk diketahui, berdasarkan data, pascaserangan zionis Israel ke Gaza pada Mei lalu, ada 400 ribu warga, atau seperlima dari keseluruhan  populasi Gaza, kehilangan akses ke pasokan air bersih. Misil dari pesawat tenour Israel menghancurkan layanan listrik, air dan memengaruhi tiga pabrik desalinasi utama di kota Gaza. Di mana pabrik tersebut memiliki tugas memasok air bersih di Gaza, dengan cara menghilangkan kadar garam berlebih yang terkandung di dalam air. Sementara itu, rusaknya layanan listrik juga menyebabkan air dari sumur yang ada, tidak bisa dipompa untuk mengalir ke rumah-rumah warga. []