Tumor Tenggorokan Sirnakan Harapan Hamidi Mencari Nafkah

Tumor Tenggorokan Sirnakan Harapan Hamidi Mencari Nafkah

Tumor Tenggorokan Sirnakan Harapan Hamidi Mencari Nafkah' photo

ACTNews, BANJAR - Ahmad Hamidi, sehari-harinya berprofesi sebagai pekerja serabutan. Kadang ia adalah pendoa di acara pemakaman, atau lain hari bekerja sebagai kuli bangunan, dengan gaji kurang dari satu juta setiap bulannya.

Sekitar dua bulan lalu, Hamidi merasa badannya lelah. Setelah beristirahat, alih-alih kondisi badannya membaik, ia justru lemas dan tak dapat bergerak. Tak hanya itu, muncul benjolan di bagian tenggorokan Hamidi.

“Menurut analisis dokter, ada tumor di daerah tenggorokannya. Kondisinya sekarang tak bisa mencari nafkah sama sekali, sehingga mesti dibantu oleh kedua orang tuanya. Sangat memprihatinkan kondisinya sekarang,” tutur Budi Rahman Wahid selaku Koordinator Mobile Social Rescue (MSR) - ACT Kalsel.

Bukan tanpa usaha, Hamidi pernah berobat ke rumah sakit. Bahkan tetangganya membantu Hamidi untuk membuat BPJS. Sempat dirawat selama satu minggu, namun keluarga membawanya pulang kembali karena tidak punya biaya untuk makan dan menjaga Hamidi.

Di tengah himpitan keadaan, rasa syukur masih melingkupi keluarga Hamidi. Istrinya, Rahayu, dan ketiga anaknya masih dapat beraktivitas normal. Orang tua Hamidi sehari-hari menanggung biaya keluarga ini. Sampai saat ini, Hamidi juga ikut dirawat di rumah orang tuanya di Jalan Makam, Desa Keramat Baru, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

“Alhamdulillah, kalau keluarganya masih bisa beraktivitas sehari-hari dibantu oleh orang tua Ahmad Hamidi. Hanya istrinya agak tidak nyaman juga karena merepotkan orang tuanya,” ujar Budi.

Saat menjenguk keluarga Hamidi pada Selasa (16/4), tim MSR melakukan asesmen dan merencanakan pendampingan selanjutnya untuk pengobatan Hamidi. “Insyaallah rencana selanjutnya kita mau adakan penggalangan donasi, dan campaign di kitabisa.com. Ada rencana ia akan dirawat di rumah sakit lagi, tanggal 20 kalau tidak salah, cuma takut biayanya tidak mencukupi lagi,” kata Budi.

Dalam kesempatan itu juga, istri Hamidi mengutarakan harapan agar mereka bisa mendapatkan bantuan untuk pengobatan suaminya dan kehidupan sehari-hari. “Beliau bercerita suaminya sudah tidak bisa bekerja lagi, dan ketika kami datang sangat bahagia sekali. Mereka berharap untuk bisa mendapatkan bantuan untuk pengobatan suaminya dan meringankan kehidupan sehari-hari,” pungkas Budi. []


Bagikan