Tuntaskan Gizi Buruk dan Campak, ACT Terus Lakukan Pendampingan Di Asmat

Tuntaskan Gizi Buruk dan Campak, ACT Terus Lakukan Pendampingan Di Asmat

ACTNews, ASMAT – Tim Tanggap Bencana ACT saat ini masih terus menggelar misi kemanusiaannya di Asmat, Papua pasca-gizi buruk dan wabah campak mencuat ke publik awal Februari lalu.

Hingga saat ini, ACT sudah empat kali mengirimkan tim relawan. Tim pertama bertugas melakukan asesmen,  tim kedua hingga keempat adalah tim implementasi medis dan bantuan pangan.

Hingga bulan ketiga ini, ACT masih terus mendistribusikan program bantuan pangan "Kapal Kemanusiaan Papua" sebanyak 100 ton beras serta kegiatan medis ke sejumlah distrik di pedalaman Asmat.

Adapun tim medis yang masih disiagakan meliputi dokter umum, perawat dan ahli gizi. Menurut koordinator tim medis ACT untuk Asmat gelombang dua yang telah kembali ke Jakarta, dr. Azhari Mughful (28), problematika KLB campak dan gizi buruk massal yang terjadi disana begitu kompleks.

"Salah satu yang menjadi persoalan fundamental adalah pola pikir (mindset) warga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama dalam hal pangan, mayoritas masyarakat di pedalaman sering meninggalkan kampung masuk hutan. Di sana mereka tinggal berbulan-bulan mencari kayu gaharu dan mengonsumsi apa saja makanan yang ditemukan tanpa mempertimbangkan kandungan gizinya," papar Azhari.

Keadaan tersebut diperparah dengan minimnya edukasi pola hidup sehat dari intansi terkait. Mayoritas warga berprilaku hidup tidak sehat seperti buang hajat langsung ke rawa, tak memiliki MCK sesuai standar kesehatan, tak suka mencuci tangan, buang sampah sembarangan atau perilaku  lainnya.      

“Untuk itu kami (ACT-red) berupaya bukan hanya melakukan vaksinasi, pengobatan. Tapi juga mengedukasi masyarakat melalui  penyuluhan pola hidup bersih dan sehat (PHBS),” ujarnya, Jumat (16/4).

Azhari menambahkan, penanganan KLB gizi buruk dan campak yang terjadi di Asmat sangat butuh penanganan intensif dalam jangka panjang. "Selain edukasi kesehatan, juga diperlukan program lanjutan berupa pemberdayaan dan pengembangan ekonomi warga,” tegasnya. 

Hal senada juga diungkapkan Manajer Tim Medis-ACT, dr. Rizal Alimin. "Kami akan terus bersinergi dengan puskesmas-pukesmas di setiap distrik dan Dinas Kesehatan. ACT juga tengah memprogramkan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat, untuk meningkatkan ekonomi desa,” tuturnya.  

Semangat untuk menggalang sinergi dengan pihak terkait pun digelorakan Tim Medis ACT ketiga yang kini sudah berada di sana.

Dr. Dimas Adibayu Dewo  (28), Sebagai Koordinator  Tim Medis ACT ketiga bersama timnya saat ini tengah merangkul berbagai elemen di Asmat untuk menangani KLB gizi buruk dan campak ini. 

Menurut  Alumnus Fakultas Kedokteran Trisakti ini, Timnya terus mendatangi setiap distrik. "Ada 23 distrik yang perlu dilakukan penanganan. Tim medis baru 4 distrik yang sudah terpapar program kami," jelasnya.      

Pihaknya berjanji akan terus berkordinasi dengan berbagai kalangan di Asmat seperti  kader posyandu, puskesmas dan dinas kesehatan setempat.   

Tim medis jilid tiga ini pun, tetap berfokus pada program advokasi dan koordinasi, pelayanan kesehatan dan vaksinasi, edukasi dapur gizi berbasis kemampuan lokal, serta penyuluhan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas setempat.

Untuk itu ACT bersinergi dengan  Satgas TNI, Dinas Kesehatan, RSUD, Puskesmas, Kementrian Kesehatan, Dinas Sosial, dan berbagai elemen lain di Asmat.[]

Tag

Belum ada tag sama sekali