Uniknya Pembibitan Kambing di Lumbung Ternak Wakaf Tasikmalaya

Pada proses pembibitan, anakan kambing di Lumbung Ternak Wakaf (LTW) Tasikmalaya kerap diabaikan oleh indukannya, utamanya ketika menyusu. Untuk menghindari kematian anakan kambing, LTW Tasikmalaya mengakalinya dengan membuat kandang susuan dilengkapi dengan dot susu khusus untuk anak-anak kambing ini.

Uniknya Pembibitan Kambing di Lumbung Ternak Wakaf Tasikmalaya' photo

ACTNews, TASIKMALAYA - Usman menyiapkan botol-botol susu, sementara Odik sedang menghangatkan susu di kompor pagi itu. Pelan-pelan Usman membantu Odik memasukkan susu itu ke dalam botol-botol yang telah mereka siapkan tadi untuk kambing-kambing kecil yang ada di kandang Lumbung Ternak Wakaf (LTW) binaan Global Wakaf.

Botol-botol itu kemudian mereka sangkutkan ke masing-masing bilik yang berisi hampir puluhan kambing kecil. Mereka menyusu persis seperti disusui induknya, namun susu tersebut hasil perahan langsung dari sapi yang juga diternakkan oleh LTW Tasikmalaya.

Usman mengatakan, proses pembibitan (breeding) di LTW Tasikmalaya memang cukup berbeda dengan proses pembibitan di LTW Blora. Sebagian kambing dipisahkan dari indukan mereka ketika menyusu. Dengan kata lain, mereka menyusu dengan menggunakan dot di kandang tanpa indukan mereka.

“Kambing-kambing ini diberi susu pakai dot karena induknya tidak mau menyusui mereka lagi. Kan beda-beda, ya. Ada indukan yang masih mau memberi susu, ada yang malah ditendangi anaknya ini ketika anaknya mau menyusu. Makanya dipindah ke sini, kasihan mereka, yatim,” seloroh Usman, Selasa (30/7).

Beberapa dari indukan diakui Usman masih ada yang mau menyusui anaknya, namun sudah kurang produktif sehingga tidak bisa mengeluarkan air susu lagi. Oleh karenanya, di antara 100 ekor kambing ini, ada kambing yang tidak selalu dirawat di kandang tersebut.

“Kadang ada indukan yang memang sudah tidak keluar susu lagi. Mereka masih mau menjilati anaknya buat memandikan. Kalau seperti itu, ya kita pindahkan lagi anakan ini nanti ke induknya, kecuali ketika mau diberi susu saat pagi dan sore. Ini kan ada bedanya, kalau yang benar-benar induknya lari ke sana ke mari, anaknya agak kotor karena tidak dijilati,” kata Usman sembari menunjuk kambing-kambing itu.


Beberapa di antara anak-anak kambing ini bahkan sudah ada yang berukuran agak besar. Odik mengatakan, untuk kambing yang agak besar ini bahkan susunya dicampur susu formula karena kebutuhan susu yang lebih banyak dari yang lain, yakni tiga kali sehari.

“Semenjak lahir memang kita rawat, kalau yang sudah besar ukurannya ini paling umurnya sebulanan. Nanti kalau sudah tiga bulanan, baru akan kita lepas untuk makan rumput sendiri,” kata Odik sembari memegang seekor kambing.

Sebelum kandang itu dibuat sekira empat bulan yang lalu, Usman dan Odik memang bekerja memberi makan kandang-kandang ternak yang sudah besar. Sebelumnya, kambing-kambing yang baru lahir itu memang dibiarkan saja bersama indukannya di kandang. Lantaran sering mendapati kambing yang mati karena indukan yang bermasalah tadi, tim pengelola LTW akhirnya membuatkan kandang khusus untuk anak-anak kambing ini.

“Dulu memang sulit untuk kita kontrol ketika kambing ini beranak, apalagi kalau beli dari luar untuk pembibitan. Ada yang tidak kelihatan kambingnya sedang bunting ketika kita beli. Makanya ketika sampai, sudah saja dia beranak di situ dan anaknya mati karena kadang susuan dari induknya sudah tidak produktif lagi,” kata Rosman.


Untuk menanggulangi hal itu, Rosman pada akhirnya membuat kandang khusus ini pada awal 2019 lalu. Kala belum memiliki sapi perah, LTW membeli susu dari luar. Namun kini, kebutuhan susu kambing itu dipasok dari sapi perah yang diternakkan LTW.

“Untuk itulah kita punya sapi perah sebanyak 3 ekor sekarang. Bisa habis 45 sampai 50 liter seharinya dari sapi-sapi itu. Dan alhamdulillah, sekarang tiap kelahiran kambing bisa kita cegah kematian anakannya. Rasionya 90% anakan bisa hidup,” ujar Rosman. []

Bagikan

Terpopuler