Upaya Mendorong Generasi Muda Kelola Sektor Pertanian

Kesejahteraan belum terjamin menjadi salah satu kerisauan generasi muda enggan terjun ke sektor pertanian.

petani muda
Ilustrasi. Sejumlah data menyebutkan, bahwa jumlah petani kian tahun, semakin sedikit. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Jumlah petani di Indonesia semakin sedikit. Pada tahun lalu dalam sebuah diskusi virtual, Bappenas memberikan data bahwa pada 1976 proporsi pekerja yang bekerja sebagai petani atau pekerja lain di sektor pertanian mencapai 65,8 persen. Angka tersebut menyusut menjadi 28 persen pada 2019. Bappenas kala itu sampai memperkirakan, jika kondisi seperti sekarang terus berjalan, profesi petani di Indonesia bakal menghilang di tahun 2063.

Hal senada tergambar dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 lalu, yang mencatat jumlah petani Indonesia pada 2019 adalah 33,4 juta orang. Sekitar 91 persen atau 30,4 juta petani, telah berusia di atas 40 tahun, dan mayoritas ada di kisaran 50-60 tahun. Jumlah petani yang berusia di kisaran 20-39 tahun hanya delapan persen, atau sekitar 2,7 juta orang. BPS mencatat setiap tahun mengalami penurunan.

Salah satu faktor yang membuat generasi muda enggan menjajaki sawah ladang, yakni kesejahteraan yang kurang terjamin. Mantan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan berdasarkan data yang ada, sebagian besar kemiskinan tersebar di pedesaan di mana pendapatan penduduk bergantung dari sektor pertanian.

Dia juga menjelaskan kontribusi pertanian terhadap GDP sekitar 12-13%, namun kontribusi terhadap kesempatan kerja masih sekitar 30%. Hal ini membuat anak muda kurang tertarik masuk ke dunia pertanian dan karena itu, regenerasi petani menjadi sangat lambat, atau hampir tidak ada. "Hal ini juga yang menyebabkan sekitar setengah petani beralasan menjadi petani karena terpaksa, tidak ada pekerjaan lain," kata Bayu.


Permasalahan kesejahteraan petani ini yang kemudian menjadi perhatian banyak pihak, termasuk Global Wakaf-ACT. Mohammad Jakfar dari Tim Global Wakaf-ACT menjelaskan, kekhawatiran kesejahteraan petani seolah tergambar dari harga gabah murah dan tidak ada jaminan.

“Untuk itu Global Wakaf-ACT berupaya mendorong kesejahteraan petani melalui modal pertanian, teknologi, dan pendampingan. Kami berharap penguatan di sektor pertanian bisa terus dilakukan. Regenerasi petani juga menjadi perhatian Global Wakaf-ACT. Salah satunya, kami berharap bisa segera mendukung pendidikan anak-anak petani,” kata Jakfar.

Saat ini Wakaf Sawah Produktif sudah berjalan di 9 provinsi, di 24 kota dan kabupaten. Total ada 885 petani, 605 buruh tani, dengan luas lahan 679 hektare yang dijangkau Global Wakaf.[]