Upaya Menjaga Keberlangsungan Sumur Wakaf Lewat Konservasi dan Pemberdayaan

Melalui dua program ini, Sumur Wakaf dapat memberikan efek domino yang lebih dari sekadar bantuan sanitasi.

konservasi
Budidaya perikanan menjadi salah satu pemberdayaan pembangunan Sumur Wakaf. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Sejak berjalan pertama kali pada tahun 2015, program Sumur Wakaf sampai kini terus dikembangkan. Salah satu perkembangan yang ada dalam program tersebut adalah program konservasi dan pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar titik pembangunan Sumur Wakaf. Tujuan inovasi adalah menjaga keberlangsungan program Sumur Wakaf yang telah berjalan.

Nurul Ramadhan dari Tim Wakaf Air Produktif menjelaskan ada dua metode yang dalam konservasi Sumur Wakaf, yakni metode vegetatif dan metode mekanis. 

Metode vegetatif berupa penanaman tanaman di sekitar Sumur Wakaf. “Ada dua jenis yang kita sarankan, yakni rumput vertifier agar tidak terjadi abrasi dan juga pohon bidara. Selain dua jenis tanaman ini, kami juga memberikan pilihan kepada masyarakat untuk menanam tanaman yang dapat melindungi tanah. Mungkin bisa tanaman lain yang mungkin produktif secara ekonomi untuk penerima manfaat,” ujar Nurul Ramadhan dari Tim Wakaf Air Produktif pada Rabu (2/2/2022).

Kemudian, metode mekanik, salah satunya dengan membuat sumur resapan di dekat Sumur Wakaf. Sumur resapan akan menyerap air bekas pakai yang tidak terkontaminasi.


Dengan adanya tanaman, dapat menahan abrasi tanah di sekitar wilayah Sumur Wakaf. (ACTNews)

“Nanti air yang ada di sumur resapan ini, dapat digunakan untuk menyiram pohon, minum ternak, dan untuk kebutuhan lain agar bisa digunakan di kemudian hari jika sumur ternyata mengalami kekeringan,” jelas Nurul.

Bersamaan dengan program konservasi, tim juga menyertakan program pemberdayaan dan pelatihan. Contoh pemberdayaan yang telah berjalan saat ini adalah budidaya perikanan, perkebunan, dan peternakan yang disesuaikan dengan potensi lingkungan. Pemberdayaan tersebut dilakukan dengan tujuan agar para penerima manfaat dapat mandiri dalam mengelola Sumur Wakaf.

“Tentu kita tidak ingin Sumur Wakaf menjadi aset terbengkalai karena masalah ekonomi. Kami berharap masyarakat bisa memperbaiki. Jadi ketika kami sudah memberikan pemberdayaan ekonomi. Kami berharap hasil bisa digunakan untuk merawat aset yang telah dibangun,” terang Nurul.

Per 2021, program konservasi ini telah berjalan di 7 provinsi dan 31 kabupaten dan kota di Indonesia. Nurul mengatakan, program ini juga telah menginspirasi kedermawanan masyarakat di wilayah setempat.

“Alhamdulillah dari program pemberdayaan itu, di salah satu titik di wilayah Yogyakarta, penerima manfaat secara sukarela memberikan sedekah ketika mereka mengambil air. Sedekah yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk merawat aset dan sisanya untuk santunan anak yatim di sekitar sana. Jadi kebermanfaatan yang lain juga berlanjut,” ucap Nurul.

Melalui program-program pemberdayaan, Nurul berharap pembangunan Sumur Wakaf dapat memberikan efek domino yang lebih dari sekadar bantuan sanitasi.[]