Urgensi Sumur Wakaf untuk Sarana Pertanian di Bekasi

Tak jauh dari Ibu Kota Jakarta, masih banyak warga yang harus menderita akibat minimnya sumber air. Mereka pun bertahan, menjadi petani dengan hasil tak maksimal, juga pekerjaan yang tak lagi memberikan gaji besar.

Seorang buruh tani, di Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, memanfaatkan lahan sawah yang telah menjadi lahan 'tidur' karena mengalami kekeringan di musim kemarau. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI – Nyaris tiap kemarau, wilayah Kabupaten Bekasi dirundung bencana kekeringan. Periode umumnya terjadi mulai pertengahan tahun hingga tujuh sampai delapan bulan selanjutnya. Dampaknya tak main-main, kekeringan membawa dampak buruk bagi warga serta area pertanian. Tanah kering yang tak dimanfaatkan seolah akan menjadi pemandangan tiap kemarau menyapa.

Dilansir dari Radar Bekasi, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Nayu Kulsum mengungkapkan, target penanaman padi pada September 2020 ini seluas 5 ribu hektare. Sayang, target itu masih jauh karena hingga saat ini area yang baru bisa ditanami hanya sekitar 800 hektare saja. Berbagai kendala pun hadir, salah satunya sumber air pertanian yang masih minim.

Nayu menilai, apabila kemarau masih berkepanjangan sampai beberapa bulan ke depan, padi yang sudah tertanam terancam mati dan gagal panen. “Bisa saja kekeringan dan gagal panen. Beberapa wilayah yang krisis air itu di bagian utara, karena memang irigasi air banyak mengalami kerusakan, dan kondisi lahan pertanian lebih tinggi dari saluran irigasi, untuk mengantisipasi itu, harus menggunakan pompa air,” jelasnya.

Dari pantauan tim Global Wakaf - ACT Bekasi, salah satu wilayah yang mengalami kekeringan pada September ini ada di Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi. Agus Suharyadi, salah satu tokoh masyarakat setempat mengatakan, banyak sawah di sekitar lingkungannya tak memiliki pompa air dan hanya mengandalkan air dari irigasi atau sungai serta air hujan. Sehingga ketika musim kemarau datang, sawah kering dan gagal panen sangat besar potensinya.

“Di wilayah sini sangat butuh sumber air buatan (sumur). Ya buat rumah tangga sama pertanian juga. Karena di sini rawan kekeringan, apalagi buat kebun sama sawah yang sangat membutuhkan air,” ungkap Agus, Jumat (11/9).

Untuk menyiasati musim kemarau, sambung Agus, biasanya petani mencari alternatif tanaman yang sekiranya mampu bertahan walau dengan air yang sedikit. Pilihan mereka pun jatuh pada tanaman cabai dan pare. Namun, hal itu tak sepenuhnya menyelesaikan masalah mengingat tak stabilnya harga untuk sayuran. Selain mencari alternatif tanaman, petani dan buruh tani pun harus rela mencari alternatif pekerjaan saat kemarau tiba, mereka biasanya menjadi buruh bangunan atau pengendara ojek untuk terus menyambung kehidupan saat kekeringan.


Muhamad Ihsan dari Tim Program Global Wakaf - ACT Bekasi menyampaikan, sumur pertanian menjadi kebutuhan yang saat ini sangat dibutuhkan warga Desa Sukatenang yang banyak bermatapencaharian sebagai petani. "Oleh karenanya, kami berikhtiar membangun Sumur Wakaf Pertanian di desa tersebut. Melalui gerakan "Berwakaf Rame-Rame", kami mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama menghadirkan sumber air bersih bagi para petani di sana. Untuk menyalurkan dana wakaf, publik bisa mengunjungi laman Indonesia Dermawan," pungkas Ihsan.[]