Urung Fase Pemulihan, Masih Fase Tanggap Darurat

Urung Fase Pemulihan, Masih Fase Tanggap Darurat

Urung Fase Pemulihan, Masih Fase Tanggap Darurat' photo

Tulisan ini diselesaikan pada hari kelima Ketua Tim Kemanusiaan ACT hadir di Bangladesh. Apa kiranya yang dilakukan ACT di Bangladesh? Mengapa sempat diungkapkan, ini bukan semata soal mengawal serah-terima beras? Lantas apakah tidak berpikir bagaimana beras didistribusikan? Apa saja persisnya langkah-langkah yang diputuskan dan mengapa keputusan itu dibuat?

Harus dipahami, hadirnya Ketua Tim Kemanusiaan ACT ke Bangladesh memang membawa perencanaan, karena inilah cara masuk akal untuk mengedukasi dan merawat amanah. Meski demikian, perencanaan dari jauh, bisa bahkan harus berubah, ketika situasinya tidak mendukung apa yang sudah direncanakan. ACT memandang, persepsi bahwa penanganan Rohingya setelah lebih sekian pekan sejak terjadi gelombang eksodus ke Bangladesh akhir September lalu, urung memasuki fase pemulihan, alias masih fase tanggap darurat.

Awalnya, ACT bergegas mendesain program monumental sebagai penanda masuknya fase pemulihan. Bukan gagah-gagahan kalau tradisi perancangan program punya syarat mendasar: berdimensi makro, menebar maslahat luas, dan berkelanjutan. Sayang, dalam prosesnya, Tim ACT melihat situasi belakangan belum layak menuju fase pemulihan.

“Perkembangan pengungsian yang belum reda, perubahan kebijakan di Bangladesh sendiri terkait pengungsi, meyakinkan saya bahwa penangan Rohingya masih kental nuansa tanggap daruratnya. Untuk itu, ACT segera lakukan penyesuaian-penyesuaian desain programnya,” jelas Ahyudin.

Keyakinan ini muncul sebagai buah kesimpulan dari aktivitas di pekan pertama di Bangladesh. ACT melakukan serangkaian audiensi, baik dengan tokoh masyarakat, ulama, pengusaha, dan unsur pemerintah—baik militer, parlemen, juga birokrat.

Temuan dari ikhtiar demi ikhtiar ini mencakup tiga hal. Pertama, lintas elemen di Bangladesh menghadapi perubahan positif, tapi sedang berkeras membangun harmoni dari perubahan sikap ini. Pemerintah Bangladesh layak memperoleh apresiasi.

“Dari atas, sikap terhadap pengungsi, positif. Energi negatif sepenuhnya diarahkan ke Myanmar sebagai pelaku genosida dan pengusiran Rohingya. Ini menyatukan elemen-elemen pro-kemanusiaan di Bangladesh, bahkan mempengaruhi sikap seluruh aparat di Bangladesh. Di bawah, rakyat Bangladesh lebih terang-terangan menggerakkan filantropi dan lekas menyatu dengan pengungsi. Ini menjadi pintu kebaikan bagi masa depan kemanusiaan di negeri yang sangat hidup ekonomi rakyatnya ini,” ungkap Ahyudin.

Kedua, efek sikap ramah terhadap pengungsi ini menjadikan Bangladesh berpeluang menjadi magnit kebaikan, bukan untuk pengungsi saja tetapi untuk bangsa Bangladesh. ACT memperoleh mitra-mitra di Bangladesh dengan komitmen tinggi. Ada anggota parlemen dengan bersemangat siap membuka akses untuk memudahkan berbagai kendala administratif. Ada pula pengusaha mengkolaborasikan filantropi pribadinya yang sudah besar nilainya dengan ACT karena kesadaraan atas pentingnya manajemen dan pengorganisasian. Amal saleh pribadi, bagus sekali, tetapi impaknya terbatas dan sporadis.

Lalu ada pimpinan wilayah yang tak sekadar basa-basi, tapi langsung menggerakkan aparatnya mendukung kerja kemanusiaan untuk Rohingya. Malah, ada perwira militer aktif, dengan izin atasannya, bersama ACT merancang program jangka panjang untuk Rohingya.

“Amal saleh berjamaah, dengan sistem, organisasi, dan dukungan ‘jamaah relawan’ internasional, menjadi tidak sederhana impaknya. Kekuatan kemanusiaan yang ditimbulkannya bisa berlipat ganda,” ujar Ahyudin dengan yakin.

Ketiga, dengan semangat mempercepat berakhirnya fase tanggap darurat, ACT serius mentransformasikan pengetahuan maupun pengalaman. Dua rancangan langkah yang disiapkan. Cara pertama, membiayai program pendidikan bagi putra-putri Rohingya. ACT melanjutkan program pembiayaan guru relawan asli Arakan (Rohingya) yang sudah dirintis tahun lalu. Melalui program ini, ACT mendukung penyempurnaan sarana dan prasarana pendidikan dan rumah yatim – yakni sarana edukasi dan pengayoman bagi yatim, terutama dengan pembekalan ilmu pengetahuan. Cara kedua,  menyatukan mahasiswa Arakan di Bangladesh (sebelum diperluas dengan penyatuan diaspora Rohingya di negara lainnya) dan mendukung beasiswa mereka.

Keempat, dengan kesadaran kuatnya tarikan fase tanggap darurat ini, ACT terpanggil kembali pada kompetensi utamanya, yakni penanganan tanggap bencana. Langkah yang ditempuh: segera memasifkan penyiapan hunian sementara dan mengelola kawasan khusus sebagai percontohan dijalankannya total disaster management

“Bentuk shelter yang lebih nyaman seperti digagas sebelumnya, belum pas karena memerlukan persiapan lebih lama termasuk mitra yang menguasai teknis pendiriannya. Saat ini, tenda darurat dengan penataan dan back up dapur pangan, masih menjadi kebutuhan urgen,” ungkap Ahyudin.

Kelima, kesadaran kuatnya tarikan emergency, mendorong ACT mengaktivasi gudang logistik pangan, mobile social response yang bergerak melayani kebutuhan pengungsi, dan pergerakan relawan lokal.

“Kita siapkan panggung kesalihan, ladang filantropi yang sistematis, masif, memapar setiap mata untuk peka pada krisis kemanusiaan dengan menunjukkan banyaknya pegiat kemanusiaan dari Indonesia dan dengan relawan Bangladesh yang terlibat.

Insya Allah, saya Selasa ini (10/10), menyampaikan paparan singkat kerelawanan untuk para relawan Bangladesh. Ingat, cukup briefing, bukan training. Kita arahkan singkat saja, dan biarkan kapasitas kemanusiaannya tumbuh berkembang di tengah praktek nyata kemanusiaan,” ungkap Ahyudin bersemangat.

Aksi logistik ini, mendayagunakan beras donasi dari bangsa Indonesia yang menyeberang ke Bangladesh. “Insya Allah lancar, ini akan menjadi sarana pembasuh jiwa bagi filantropis yang ingin ‘berwisata kesalihan’ di Bangladesh, di tengah sahabat-sahabat Anshar Rohingya,” pungkas Ahyudin.

Bendera emergency untuk Rohingya di Bangladesh, belum diturunkan. Senin (9/10), dalam perjalan ACT ke Kutapalong, melintasi Palong Kali, Thaing Kali dan Balu Kali, terlihat banyak pengungsi bergerak membawa barang-barang yang tak banyak, terutama di Balu Kali. Mereka harus bergeser dari tempat shelter yang dibangunnya di atas lahan pribadi tanpa izin, di bebukitan, atau pinggir sawah milik masyarakat. Mereka harus ikut aturan untuk dipusatkan di blok yang ditunjuk pemerintah Bangladesh.

Sebuah papan rambu di kiri jalan menuju Kutapalong, memuat pesan: arah ke kiri akan dibangun jalan Balukali menuju Kutapalong, sebagai jalan alternatif ke kamp pengungsian lama yang terus bertambah penghuninya. Jalan ini akan memulihkan peran jalan utama, tidak berimpitan peran menjadi jalan menuju lokasi pengungsian. Jika masih berimpitan, akan demikian padatnya jalan itu karena dilintasi gelombang kendaraan logistik, peninjau, tenaga relawan, bahkan pengungsian baru.

Pergerakan, pemusatan dan pelayanan pengungsi di area terpusat, menunjukkan itikad pemerintah Bangladesh mengurus serius pengungsi. Konsekuensinya, ini memerlukan biaya, dukungan sarana dan prasarana yang tidak sedikit biayanya. Namun kesungguhan mengurus Rohingya, akan sebanding dengan dukungan untuk meringankan beban Bangladesh.

“Kami yakin, bersama menghadapi situasi darurat ini, menjadikan Bangladesh dan semua pihak yang serius menolong Rohingya, menuai perubahan, kebaikan-kebaikan dalam kehidupan ini. Ini titik balik yang akan mengubah peradaban,” kata Ahyudin.

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan