Usaha Difabel Tengah Berjuang Melawan Penurunan Pendapatan

Pandemi dan bencana tak hanya berpengaruh pada usaha yang dijalankan orang dengan keadaan sempurna. Akan tetapi, para difabel pelaku usaha juga merasakan dampak tersebut. Mereka saat ini tengah berjuang mempertahankan usahanya agar tak berpangku tangan pada orang lain.

Penyandang difabel di Tegal tengah mengerjakan pembuatan tas kertas. Saat ini, usaha tersebut tengah dihadapi ujian berupa penurunan pembeli dampak pandemi. (ACTNews/Solikha Nova Wijayanti)

ACTNews, TEGAL – Abdul Ghofur namanya, warga Desa Sidamulya, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. Laki-laki 35 tahun ini memiliki kelainan tulang belakang yang memaksa aktivitasnya terhambat. Untuk berjalan, Ghofur agak kewalahan, begitu juga ketika hendak berdiri serta duduk, jika tak ada alat bantu, ia akan kesulitan.

Walau memiliki kekurangan, Ghofur tak menyerah begitu saja pada keadaan. Di desanya, pria yang sebelumnya merupakan seorang peternak ini, menggagas Komunitas Kreasi Difabel yang mengakomodir kreatifitas rekan-rekan sesama difabel. Inisiatif tersebut Ghofur wujudkan agar ia dan teman sesama difabel tak melulu berpangku tangan pada orang lain.

“Di sini kami memproduksi paper bag dan mendapatkan pendampingan dari Dinas Sosial Kabupaten Tegal dan Pemerintah Desa Sidamulya,” ungkap Ghofur, Kamis (4/3/2021).

Dalam sehari, Ghofur mengaku, ia dan teman-temannya bisa memproduksi tas berbahan kertas ramah lingkungan itu mencapai 20 lusin. Jumlah tersebut selalu laku karena pembelinya berasal dari berbagai daerah. Proses pembuatan masih manual dan dikerjakan oleh 10 orang. Mereka semua merupakan difabel, baik fisik maupun mental.

Namun sayang, pandemi Covid-19 yang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia sejak Maret 2020 lalu dan hingga kini masih berlangsung, membawa dampak buruk bagi usaha komunitas difabel ini. Mereka mengalami sepi permintaan dan penurunan omzet. Pelanggan yang dahulu membeli, kini berhenti untuk sementara waktu. “Sampai saat ini masih ada 3 ribu paper bag terbengkalai di gudang, menunggu pembeli. Upah pekerja juga belum ditunaikan,jelas Ghofur.

Berbagai cara sudah Ghofur lakukan demi kreasi komunitasnya bisa laku. Ia telah melakukan penawaran dan promosi. Akan tetapi, hasil maksimal belum juga ia panen. Ghofur menuturkan, ada pembeli yang berminat pada produknya tapi dengan desain yang berbeda. Pesanan ini urung dipenuhi karena keterbatasan modal. Ghofur ingin stok yang sudah ada saat ini bisa terjual terlebih dahulu.

Seperti Ghofur, di Bekasi, Subroto, seorang pengusaha konveksi yang juga difabel tengah menghadapi ujian pada usahanya. Pria yang juga mempekerjakan teman-teman difabel ini sedang mengalami penurunan pendapatan dampak banjir yang menerjang Kampung Nanggewer, Desa Labansari, Kabupaten Bekasi pekan lalu. Akibat banjir ini, mesin konveksi serta bahan untuk menjahit terancam rusak karena terkena air.[]