Usaha Olahan Markisa Enung yang Terdampak Pandemi

Lewat olahan markisa berupa dodol dan sirop, Enung Ukanah (52) mampu membiayai keluarganya. Akan tetapi, perjuangan Enung tak mudah, ia harus bersaing dengan merek sirop serupa yang sudah ternama dan badai pandemi yang hingga kini belum kunjung usai.

bantuan modal garut
Enung saat mengemas produk olahan markisanya. (ACTNews)

ACTNews, GARUT – Setengah sang suami meninggal dunia beberapa tahun lalu, Enung Ukanah (52) menjalani peran sebagai orang tua tunggal bagi kedua anaknya.Mereka ini lah yang kemudian menjadi motivasi utama Enung menjalani kehidupan. Ia banting tulang demi kelangsungan masa depan anak.

Untuk menghidupi anak-anaknya, Enung bertahan dengan berjualan olahan buah markisa yang dijadikan produk sirop dan dodol. Perempuan asal Desa Sindangpalay, Kecamatan Karangpawitan, Garut, itu telah menjadikan usaha tersebut sebagai pemasukan utama selama 11 tahun.

Pagi hingga selepas asar menjadi waktu Enung bekerja. Ia mengolah sendiri markisanya dan memasarkan dengan cara menitipkan dari warung ke warung atau langsung ke rumah konsumen. Setelah itu, ia melanjutkan aktivitas mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumahnya.

“Semua proses saya lakukan manual, termasuk pengemasan,” ungkap Enung yang memberi merek produk siropnya dengan nama Markisa Khalida. Walau bersaing dengan merek yang lebih terkenal, Enung tak putus semangat.


Terdampak pandemi

Selama 11 tahun, usaha olahan markisa Enung berjalan dengan lancar. Sayang, di tahun 2020 pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia dan turut berdampak pada perekonomian nasional, termasuk usaha Enung. Pendapatannya menurun drastis. Sampai-sampai ia sulit memenuhi kebutuhan keluarga.

Untuk meminimalisir kerugian yang lebih besar, sejak pandemi, Enung mengurangi produksi olahan markisanya. Sedangkan modal usaha sebagian ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup harian.[]