Usaha Tempe Bertahan di Tengah Gempuran Pandemi

Menjalankan usaha di tengah pandemi tidaklah mudah. Paling tidak itulah yang dirasakan Sudianto, pengusaha tempe di Desa Iwul, Parung, Bogor. Selama pandemi ini, produksinya menurun hingga 50 persen, hal tersebut karena harga bahan baku yang mengalami kenaikan.

Proses sortir kacang kedelai sebagai bagian dari pengawasan kualitas tempe produksi Sudianto. Tempe ini diberi merek Echo Raos. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BOGOR – Menjelang pertengahan hari, Selasa (6/10), Sudianto, pengusaha tempe dengan merek Echo Raos di Desa Iwul, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor tengah sibuk mengolah puluhan kilogram kacang kedelai. Sebuah tong besar berisikan air bersih menjadi medium Sudianto membersihkan produk olahan tersebut. Dengan teliti matanya memisahkan kacang kedelai bersih dengan kulit serta kotoran lainnya. Hal ini dilakukan demi menjaga kualitas produk olahannya.

Ruangan tempat Sudianto bekerja saat ini tak seberapa luas. Namun, tempat itu dilengkapi untuk melakukan proses masak, pembersihan kacang, pengeringan hingga fermentasi. Akan tetapi, Sudianto memiliki rencana untuk memperbesar ruang kerjanya itu. Karena semakin besar kapasitas produksinya, ia pun membutuhkan tempat yang lebih besar pula.

“Sekarang ini per hari baru ngolah sekitar 25 sampai 50 kilo-an (kacang kedelai), masih cukup sih ruangannya. Tapi kan harapannya bisa lebih banyak lagi produksinya, pasti butuh tempat yang lebih luas lagi, khususnya untuk menjaga kebersihan dan kualitas,” jelasnya.

Kapasitas produksi yang tinggi memang menjadi cita-cita pengusaha yang telah menggeluti bisnis tempe sejak 2016 di Desa Iwul ini. Pernah suatu waktu ia memiliki pekerja hingga tiga orang dengan produksi mencapai 50 kilogram dalam sehari. Sayang, berbagai faktor menghampiri yang membuat bisnisnya mengalami kondisi naik turun. Dan, tahun 2020 ini baginya menjadi yang terberat. Pandemi Covid-19 secara tak langsung mempengaruhi usahanya. Harga kacang kedelai mengalami kenaikan, hingga kesulitan distribusi akibat pembatasan sosial.

Kacang kedelai yang Sudianto olah pada Selasa kemarin ia dapatkan dengan harga Rp7.800/kg. Harga tersebut terbilang tinggi. Namun, harga itu masih lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu saat PSBB diberlakukan secara ketat. Saat itu harga kedelai yang Sudianto olah per kilogramnya menyentuh Rp8.500. Hal ini jelas menjadi pukulan bagi Sudianto, dampaknya, ia terpaksa menurunkan kapasitas produksi menjadi 25 kilogram per hari dan mengerjakannya sendirian.

“Pandemi gini ngaruh banget ya, khususnya sama harga kedelai, jadi naik. Sama buat distribusi jadi susah, banyak jalan sama warung tempat tempe ini saya juga ditutup,” ungkap pria asal Cilacap ini.

Berkurangnya kapasitas produksi ini juga beriringan dengan berkurangnya pendapatan. Sudianto mengatakan, dengan berkurangnya kapasitas produksi sampai 50 persen, jelas mengurangi pendapatannya. Apalagi kalau harga bahan baku tempe terus naik, hal ini pun turut mempengaruhi pendapatannya.

Segera berakhirnya pandemi kini menjadi harapan besar bagi Sudianto. Pasalnya, berbagai rencana telah siap ia jalankan pascapandemi ini. Khususnya, membesarkan usaha makanan tradisionalnya agar bisa membuka lapangan kerja baru.[]