Usai Ramadan, Bagaimanakah Kondisi Pengungsi Suriah?

Meski beragam bantuan telah disalurkan untuk pengungsi Suriah pada Ramadan lalu, namun hal ini belum dapat memenuhi tingginya kebutuhan para pengungsi di tengah krisis. Untuk itu, sebagai alumni Ramadan, sudah semestinya kita tetap menggencarkan bantuan terbaik untuk pengunsi Suriah setelah berakhirnya bulan suci Ramadan.

ramadan suriah
Pengungsi Suriah menerima bantuan dari dermawan pada Ramadan lalu. (ACTNews)

ACTNews, SURIAH – Bulan Ramadan 1443 Hijriah telah berlalu. Beragam aksi kemanusiaan pun telah Aksi Cepat Tanggap (ACT) gulirkan untuk negara-negara terdampak konflik termasuk Suriah. Mulai dari aksi distribusi iftar, paket pangan, zakat fitrah, hingga paket lebaran telah ACT implementasikan di negeri yang telah dilanda konflik selama lebih dari satu dekade tersebut.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Network - ACT menyatakan, meski bantuan telah diberikan, bukan berarti selesai sudah permasalahan yang membelenggu para pengungsi. Jumlah bantuan yang telah mereka terima, disebut Firdaus, hanya memenuhi sedikit dari keseluruhan kebutuhan pengungsi.

"Oleh karena itu, kita harus tetap menggencarkan bantuan untuk pengungsi Suriah meski Ramadan telah berakhir. Kan Alumni Ramadan, jadi semangat berbagi kita harus sama dengan Ramadan lalu," ajak Firdaus, Selasa (10/5/2022).

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Ahad (8/5/2022), menyatakan bahwa jumlah warga Suriah yang membutuhkan bantuan kemanusiaan telah mencapai rekor tertinggi, termasuk di antaranya dari kalangan anak-anak.

"Anak-anak Suriah telah menderita terlalu lama dan seharusnya tidak menderita lagi. Lebih dari 9,3 juta anak di Suriah membutuhkan bantuan. Ini merupakan jumlah tertinggi yang tercatat sejak awal krisis, lebih dari 11 tahun lalu," ujar Badan anak-anak dari PBB (UNICEF) dalam sebuah pernyataan. dikutip dari laman Middle East Eye.

UNICEF pun menyatakan keprihatinannya bahwa di tengah meningkatnya krisis Suriah, bantuan internasional untuk negara tersebut justru mengalami penurunan drastis.

"Kebutuhan hidup anak-anak Suriah di dalam negeri dan di negara-negara sekitarnya telah meningkat. Mereka adalah kelompok yang paling rentan. Banyak keluarga berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sementara harga kebutuhan pokok, termasuk makanan, telah meroket salah satunya akibat konflik di Ukraina," ujar Adele Khodr, kepala UNICEF untuk wilayah Timur Tengah. []