Uwek Ponisan: Lelah Kerja, Tidur Tak Nyenyak karena Utang

Di umurnya yang memasuki 76 tahun, Uwek Ponisan masih harus disibukkan dengan urusan pertanian, terutama mengenai modal. Ia bahkan mengaku sulit tidur memikirkan utang modal yang harus ia bayar setelah panen.

Uwek Ponisan bersama salah satu anggota keluarganya ketika ditemui di rumahnya. (ACTNews)

ACTNews, DELI SERDANG – Umur Uwek Ponisan sudah memasuki 76 tahun, dan kerasnya kehidupan tergambar di badannya. Tubuhnya masih segar alih-alih ringkih, senyum juga masih terlihat tulus menghiasi wajahnya yang mulai menua. Sejak muda, Uwek Ponisan memang sudah berkutat dengan aktivitas tani sehingga fisiknya tertempa.

Sampai kini, ia pun masih rajin menggarap lahan menganggur seluas 8 rante (1 rante sekitar 400 meter persegi), yang ia sewa dari sebuah perusahaan. Dari lahan tersebut, ia bisa menopang kebutuhan hidup yang ia jalani beserta istri, tiga anak, dan kedua cucunya.

Namun kendala kerap ditemuinya dalam menggarap sawah, termasuk dalam permodalan. Acap kali ia mengaku tak bisa tidur nyenyak sebab memikirkan utang untuk menggarap lahannya.

“Kami kalau tidak kuat kuat sabar, sakit, sedih dengan apa yang ada. Mungkin sekarang tidur pun enggak nyenyak. Padahal badan seharian dah capek di sawah. Kan sakit kali, capek kerja tapi tidur enggak nyenyak gara-gara utang, sampai panen baru bayar. Begitu terus berulang. Itu pun kalau panen bagus,” cerita Uwek Ponisan ditemui Tim ACTNews di gubuk kecilnya di Dusun 3, Desa Selemak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara pada Senin (24/8) lalu.


Sawah garapan Uwek Ponisan. (ACTNews)

Menurutnya masih banyak juga petani seperti dirinya yang terlilit utang. Masing-masing biasanya berutang mulai dari Rp2 juta hingga Rp4 juta. Ketika panen, mereka langsung memotong keuntungannya untuk membayar utang.

“Kalaupun tidak mau berutang, ya seperti Uwek sekarang. Hasil tidak maksimal kerena tanah sawah sekarang enggak seperti jaman dahulu. Kalau dahulu enggak perlu banyak makan racun (pestisida) dan pupuk,” tambah Uwek Ponisan.

Memang, Uwek Ponisan sedang tidak ingin menambah lagi utang-utangnya. Lahannya baru saja mengalami gagal panen sekitar dua bulan yang lalu dan padinya terendam banjir. “Sekarang baru usia sebulan lebih sikit-lah pertumbuhan padi. Sudah minta dipupuk urea dan racun keong emas,” Uwek Ponisan menjelaskan.

Kini Uwek Ponisan hanya menunggu, di depan gubuk kecilnya yang berlantaikan tanah dan menghadap sebuah sungai kecil, tempat ia dan keluarganya tinggal. Ia berharap hasil panennya sukses meskipun tanpa sokongan ini itu dari utang.  Kali ini ia menjaga niat tidak mau disusahkan lagi hidup dari pinjaman. Mereka sekeluarga bertahan dalam bayang-bayang hasil sawah topangan, berharap berhasil maksimal.


Manajer Global Wakaf – ACT Jajang Fadli menyampaikan, permasalahan ini merupakan permasalahan yang umum dialami oleh mayoritas petani kecil. Berikhtiar mendukung usaha petani dalam menyediakan pangan, Global Wakaf - ACT menginisiasi program Wakaf Modal Usaha Mikro yang diluncurkan pada Rabu (19/8).

Wakaf Modal Usaha Mikro bertujuan untuk membebaskan pelaku usaha mikro dari jeratan utang dan riba. Pelaku usaha mikro meliputi produsen pangan di hulu maupun pedagang kecil di hilir, agar proses produksi serta transaksi jual-beli lebih berkah. Dengan dasar sistem Qadhr al-Hasan, Wakaf Modal Usaha Mikro memiliki peran dalam membangun komitmen para pelaku usaha penerima modal, sehingga para penerima manfaat senantiasa bertekad dalam membangun bisnisnya untuk lebih maju dan berkembang. Pemberdayaan menjadi hal mendasar demi mendorong turunnya angka kemiskinan.  

Jajang pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung kerja petani. "Bukan cerita baru, kita kerap dengar masih banyak petani yang diberatkan oleh pinjaman berbunga. Kami berharap, dengan semangat kedermawanan, kita bisa menopang petani sebagai salah satu produsen pangan dan penjaga negeri," harap Jajang. []