Vaksinasi Rendah, Omicron Mengganas di Asia Tengah

Direktur Regional WHO untuk Asia Tengah Dr. Hans Kluge mengatakan, lonjakan kasus positif hampir dua kali lipat dibanding kasus harian sebelumnya. Menurut WHO, kurang dari 40 persen penduduk di Asia Tengah yang telah divaksin dengan dua dosis.

covid 19 di asia tengah
Ilustrasi. Omicron melonjak tajam di Asia Tengah. (Dokumen Istimewa)

ACTNews, JAKARTA – Selama dua pekan terakhir kasus Covid-19 varian Omicron melonjak tajam di negara-negara Asia Tengah-yang mayoritas penduduk beragama muslim. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (15/2/2022) menduga hal ini dampak dari tingkat vaksinasi di negara-negara tersebut masih rendah.

Direktur Regional WHO untuk Asia Tengah Dr. Hans Kluge mengatakan, lonjakan kasus positif hampir dua kali lipat dibanding kasus harian sebelumnya. Menurut WHO, kurang dari 40 persen penduduk di Asia Tengah  yang telah divaksin dengan dua dosis.

Lonjakan kasus membuat fasilitas kesehatan di negara-negara tersebut kolaps. Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia untuk memberikan perawatan pun telah berkurang akibat peningkatan risiko penularan di fasilitas kesehatan telah meningkat.

“WHO mencatat ada 30.000 nakes (yang positif) pada akhir tahun lalu. Sekarang meningkat menjadi 50.000 kasus. Ini memperburuk permasalahan yang ada." kata Dr. Hans.

WHO pun mengingatkan masyarakat harus tetap waspada terhadap varian Omicron. Sebab, meski berdasarkan penelitian varian ini dianggap tidak lebih mematikan dibanding beberapa varian sebelumnya, namun tingkat penularannya sangat tinggi.

"Sejauh ini 165 juta kasus telah dicatat (di negara-negara di Asia Tengah), dengan 1,8 juta kematian. 25.000 kasus tercatat hanya dalam seminggu terakhir," ujar Dr. Hana.

Selain Asia Tengah, wilayah lainnya yang tengah berjuang menghadapi gelombang Covid-19 varian Omicron adalah Afrika. Sejauh ini, varian Omicron telah mendominasi kasus Covid-19 di 30 negara di Afrika.

Pandemi yang berkepanjangan, membuat krisis kemanusiaan pun semakin parah. Pandemi menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga pangan. Mendorong warga miskin sulit membeli makanan, dan secara langsung meningkatkan angka gizi buruk dan kerawanan pangan.[]